Surabaya (prapanca.id) – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum penting untuk meninjau kembali arah pendidikan tinggi di Indonesia. Di tengah tuntutan agar lulusan perguruan tinggi cepat terserap Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), muncul kekhawatiran terhadap pergeseran fungsi utama kampus sebagai pusat pembentukan karakter dan peradaban.
Sorotan tersebut disampaikan oleh Tuti Budirahayu, pakar Sosiologi Pendidikan dari Universitas Airlangga. Ia menilai, pendidikan tinggi sejatinya tidak hanya bertujuan mencetak tenaga kerja, tetapi juga membangun manusia yang mampu berpikir kritis dan bertindak berdasarkan nilai moral.
Menurutnya, filosofi pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia, baik secara intelektual maupun batiniah. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk kepribadian mahasiswa secara utuh, tidak semata mengejar capaian akademik atau keterampilan teknis.
Risiko Reduksi Fungsi Perguruan Tinggi
Dalam perkembangannya, orientasi pendidikan tinggi dinilai semakin mengarah pada kebutuhan pasar kerja. Penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri memang penting, namun jika dilakukan secara berlebihan berpotensi mereduksi fungsi kampus menjadi sekadar penyedia tenaga kerja.
Tuti Budirahayu mengingatkan bahwa pendekatan semacam ini dapat membuat lulusan kehilangan sensitivitas sosial. Ketika mahasiswa hanya dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan industri, aspek kritis terhadap ketimpangan sosial dan nilai kemanusiaan bisa terabaikan.
Fenomena ini juga diperparah oleh dorongan komersialisasi pendidikan. Sejumlah perguruan tinggi berlomba membuka program studi yang dianggap memiliki nilai jual tinggi di pasar kerja, sementara bidang keilmuan lain yang tidak langsung berorientasi ekonomi cenderung terpinggirkan.
Humaniora Terancam Tergeser
Dampak dari kecenderungan tersebut terlihat pada posisi ilmu dasar, sosial, dan humaniora yang semakin terdesak. Padahal, bidang-bidang ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Tuti Budirahayu menilai, jika logika pasar terus mendominasi, program studi yang berfokus pada pemikiran kritis berpotensi kehilangan ruang. Hal ini dapat berimplikasi luas terhadap kualitas peradaban, karena kemajuan tanpa landasan etika berisiko menimbulkan berbagai persoalan sosial dan lingkungan.
Dorongan Sinergi Ilmu dan Nilai
Sebagai langkah ke depan, ia menekankan pentingnya membangun keseimbangan antara kebutuhan industri dan penguatan nilai-nilai humaniora. Perguruan tinggi didorong untuk tidak memilih salah satu, melainkan mengintegrasikan keduanya dalam sistem pendidikan.
Kurikulum, menurutnya, perlu dirancang agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi sekaligus menanamkan nilai etika, empati, dan tanggung jawab sosial. Dengan pendekatan ini, lulusan tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga memiliki kesadaran sebagai bagian dari masyarakat.
Momentum Hardiknas 2026 menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Keseimbangan antara orientasi ekonomi dan nilai kemanusiaan dinilai menjadi kunci untuk menjaga marwah perguruan tinggi sekaligus memastikan kontribusinya bagi pembangunan yang berkelanjutan. (tas)

