Jakarta (prapanca.id) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan akselerasi untuk memperluas basis investor domestik, khususnya dari kalangan generasi muda. Langkah taktis ini diwujudkan melalui pelaksanaan Kuliah Umum Pasar Modal Syariah di Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Melalui edukasi ini, regulator berkomitmen mencetak investor muda yang tidak hanya aktif, tetapi juga bijak dan memahami risiko investasi.
Pertumbuhan minat investasi di sektor pasar modal memang menunjukkan tren yang sangat positif. Berdasarkan data terbaru hingga pertengahan Mei 2026, jumlah investor pasar modal di Indonesia telah menembus angka 28,1 million investor. Menariknya, lebih dari 54 persen dari total investor tersebut didominasi oleh anak muda berusia di bawah 30 tahun.
Menepis Stigma Negatif Saham Melalui Sistem Syariah
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan pentingnya pemahaman yang benar mengenai instrumen keuangan berbasis syariah. Ia mematahkan anggapan keliru yang menyamakan aktivitas investasi saham dengan praktik perjudian.
Menurut Hasan Fawzi, saham merupakan instrumen investasi legal yang telah mendapatkan legitimasi hukum Islam yang kuat melalui serangkaian fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Keamanan transaksi tersebut kini juga didukung penuh oleh Sharia Online Trading System (SOTS) yang menjamin seluruh prosesnya berjalan sesuai koridor prinsip syariah.
Sebagai bentuk konkret penguatan inklusi di lingkungan kampus, OJK mengapresiasi pembukaan rekening efek massal oleh para mahasiswa Unida Gontor. Kendati demikian, regulator mengingatkan agar momentum ini tidak disikapi dengan euforia berlebihan tanpa dasar keilmuan yang matang. Mahasiswa diimbau untuk selalu memegang teguh prinsip “2L”, yaitu memastikan legalitas lembaga investasi (Legal) dan rasionalitas imbal hasil yang ditawarkan (Logis).
Proteksi Mahasiswa dari Kejahatan Finansial Digital
Langkah OJK ini mendapat respons positif dari pihak akademisi. Rektor Universitas Darussalam Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi, menyampaikan bahwa pembekalan literasi keuangan ini sangat krusial bagi mahasiswa di tengah dinamisnya perkembangan sektor finansial saat ini.
Hamid Fahmy Zarkasyi menilai, edukasi langsung dari regulator menjadi benteng pertahanan penting agar generasi muda tidak terjebak dalam berbagai modus penipuan investasi daring yang marak terjadi. Pengelolaan keuangan yang berbasis ilmu pengetahuan diharapkan mampu menghindarkan mahasiswa dari jerat kerugian akibat sekadar mengikuti tren tanpa pemahaman risiko.
Rangkaian Edukasi Terpadu OJK di Jawa Timur
Jawa Timur sendiri merupakan salah satu wilayah strategis bagi pertumbuhan pasar modal nasional. Provinsi ini menempati posisi ketiga dengan basis investor terbesar di Indonesia yang mencapai sekitar 3,1 million investor, berada tepat di bawah Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Kegiatan di Ponorogo ini merupakan bagian dari program Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026 yang digelar OJK di berbagai titik di Jawa Timur. Selain menyasar sektor akademis, rangkaian SEPMT 2026 juga mencakup agenda strategis lainnya:
-
Pemerintahan Kota Kediri: Sosialisasi pasar modal sekaligus pencanangan galeri investasi khusus bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
-
Media Lokal: Talkshow interaktif di Radio Andika Kediri guna memperluas jangkauan literasi dan perlindungan konsumen.
-
Kota Madiun: Sosialisasi perdagangan karbon di Bursa Karbon yang melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup RI untuk pendalaman materi bagi pelaku industri daerah.
Melalui pendekatan yang masif dan terintegrasi ini, OJK optimistis kualitas literasi dan inklusi keuangan masyarakat, khususnya pada sektor pasar modal dan bursa karbon, akan meningkat secara signifikan sepanjang tahun 2026. (anz)

