Jakarta (prapanca.id) – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green di tengah lonjakan harga minyak dunia kembali menjadi perhatian. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada biaya transportasi dan produksi, tetapi juga menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mempercepat langkah menuju swasembada energi.
Guru Besar Ekonomi Mikro Pendidikan Ekonomi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. H. Eeng Ahman, M.S., menilai penyesuaian harga BBM non-subsidi tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekonomi global yang saat ini tengah berlangsung. Menurutnya, konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi faktor utama yang meningkatkan biaya pengadaan energi di Indonesia.
Dalam pandangan Prof. Eeng Ahman, hubungan antara harga minyak global dan nilai tukar memiliki dampak langsung terhadap struktur biaya BBM domestik. Ketika harga komoditas energi meningkat dan nilai mata uang nasional melemah, biaya impor energi akan semakin tinggi sehingga berpengaruh pada harga jual di dalam negeri.
Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut sejalan dengan prinsip dasar ekonomi yang menunjukkan bahwa kenaikan biaya perolehan suatu barang akan mendorong kenaikan harga di pasar. Karena Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi, fluktuasi harga minyak dunia dan pergerakan kurs menjadi faktor yang sulit dihindari.
Dampak kenaikan harga BBM tidak hanya dirasakan oleh sektor industri besar, tetapi juga menyentuh aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari. Masyarakat cenderung menyesuaikan pola konsumsi dan mobilitas ketika biaya energi meningkat. Sementara itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama yang bergerak di sektor transportasi, kuliner, logistik, dan jasa pengantaran, berpotensi menghadapi peningkatan biaya operasional yang dapat menekan keuntungan usaha.
Menghadapi kondisi tersebut, Prof. Eeng Ahman menilai langkah paling realistis dalam jangka pendek adalah meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Strategi ini dinilai dapat membantu mengurangi tekanan biaya yang ditanggung masyarakat maupun dunia usaha tanpa harus menunggu perubahan kondisi ekonomi global.
Efisiensi energi, menurutnya, perlu menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Penggunaan kendaraan secara lebih efektif, penghematan konsumsi bahan bakar, serta optimalisasi sistem distribusi menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak kenaikan harga energi.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan program BBM bersubsidi sebagai instrumen perlindungan sosial. Keberadaan Pertalite dan Biosolar masih diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah serta mendukung aktivitas ekonomi kelompok rentan dan pelaku UMKM yang sangat bergantung pada biaya energi yang terjangkau.
Di sisi lain, Prof. Eeng Ahman menilai keputusan Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan langkah yang dapat dipahami dari perspektif bisnis. Sebagai perusahaan yang beroperasi dalam mekanisme pasar, Pertamina perlu menjaga keberlanjutan usaha di tengah fluktuasi harga energi global yang terus berubah.
Meski demikian, sebagai badan usaha milik negara, Pertamina tetap perlu menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Kebijakan yang diambil harus mampu menjaga kesehatan perusahaan sekaligus mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi ekonomi nasional.
Lebih jauh, Prof. Eeng Ahman menekankan bahwa solusi fundamental untuk mengurangi kerentanan Indonesia terhadap gejolak harga energi dunia adalah memperkuat ketahanan energi nasional. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi energi domestik, pembangunan dan modernisasi kilang minyak, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya energi dalam negeri.
Menurutnya, semakin besar kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan energinya sendiri, semakin kecil pula ketergantungan terhadap fluktuasi harga di pasar internasional. Langkah tersebut akan menjadi fondasi penting bagi stabilitas ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Ia juga mengingatkan bahwa penguatan ketahanan energi harus berjalan seiring dengan penguatan ketahanan pangan dan sektor-sektor produktif lainnya. Dengan ekonomi yang lebih mandiri dan berdaya saing, Indonesia akan memiliki kemampuan lebih baik dalam menjaga stabilitas harga, melindungi daya beli masyarakat, dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi meskipun menghadapi berbagai ketidakpastian global.
Pandangan Prof. Eeng Ahman menunjukkan bahwa kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green tidak semata-mata menjadi tantangan ekonomi jangka pendek. Di balik tekanan yang muncul, terdapat peluang untuk mempercepat transformasi menuju sistem energi yang lebih efisien, mandiri, dan berkelanjutan. Melalui kombinasi kebijakan perlindungan sosial, efisiensi energi, dan percepatan swasembada energi, Indonesia dinilai dapat memperkuat daya tahan ekonominya dalam menghadapi gejolak pasar energi global di masa mendatang. (agu)

