Surabaya (prapanca.id) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) di tingkat internasional. Startup bidang climate-resilient nutrition bernama SPYRAGO berhasil meraih penghargaan Top 4 Sustainability sekaligus memperoleh pendanaan bisnis sebesar USD 800 dalam ajang Bangkok Business Challenge 2026 yang berlangsung di Bangkok, Thailand, Rabu (3/6/2026).
Bangkok Business Challenge merupakan salah satu kompetisi startup mahasiswa paling bergengsi di Asia yang diikuti ratusan tim dari berbagai negara. Sebelum melaju hingga babak akhir, SPYRAGO terlebih dahulu berhasil menembus posisi Top 20 Semifinalis dari total 385 proposal yang masuk.
Perwakilan tim SPYRAGO, Zahra, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan bersaing dengan berbagai universitas ternama dunia menjadi pengalaman berharga sekaligus validasi terhadap inovasi yang mereka kembangkan.
“Kami sangat bersyukur dapat berkompetisi bersama universitas-universitas terkemuka dunia seperti Stanford University dan Johns Hopkins University. Saat berhasil masuk Top 20 dari 385 proposal, kami merasa ide yang kami bawa memiliki relevansi untuk menjawab tantangan global,” ujarnya.
SPYRAGO hadir sebagai startup yang mengembangkan solusi kesehatan berbasis konsep Future Food dengan menggabungkan aspek kesehatan, keberlanjutan lingkungan, serta kewirausahaan sosial. Inovasi tersebut lahir dari kepedulian tim terhadap berbagai persoalan kesehatan yang berkaitan dengan perubahan iklim, ketahanan pangan, dan kondisi lingkungan yang terus berkembang.
Melalui pendekatan tersebut, SPYRAGO tidak hanya menawarkan produk kesehatan, tetapi juga layanan digital yang dirancang untuk mendukung pola hidup sehat dan berkelanjutan. Model bisnis yang dikembangkan juga mengedepankan dampak sosial sekaligus potensi keberlanjutan usaha.
“Keunggulan SPYRAGO terletak pada kombinasi antara dampak kesehatan, aspek keberlanjutan, dan kelayakan bisnis. Selain menawarkan solusi yang berdampak sosial, kami juga telah memiliki validasi pasar dan menjangkau tujuh kota di Indonesia,” jelas Zahra.
Keberhasilan tersebut didukung oleh kolaborasi multidisiplin dalam tim yang terdiri atas Sandrina Indah Paraswati (Profesi Ners 2026), Fatimah Nur Fadillah (Magister Kesehatan Masyarakat 2024), David Mey Norton (Sistem Informasi 2023), Griffan Qisthan Rafidyan (Akuntansi 2024), dan Irvan Betrando Banjarnahor (Manajemen 2024). Tim ini mendapat pendampingan dari Dr. Habiburrochman sebagai advisor.
Selama kompetisi, peserta dituntut mampu mempresentasikan ide bisnis secara komprehensif di hadapan juri internasional, mulai dari model bisnis, dampak sosial, strategi implementasi, hingga peluang pengembangan usaha di masa depan.
Bagi tim SPYRAGO, pengalaman tersebut menjadi momentum penting untuk memperluas wawasan sekaligus memperkuat kesiapan startup lokal agar mampu bersaing di tingkat global.
“Kami belajar bahwa startup yang ingin berkembang secara global tidak cukup hanya memiliki ide kreatif. Dibutuhkan pemahaman pasar yang kuat, model bisnis yang berkelanjutan, serta dampak yang terukur. Ke depan, kami ingin terus mengembangkan SPYRAGO agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkas Zahra. (tas)

