Surabaya (prapanca.id) – Pemenuhan hak berekspresi dan ruang kreativitas bagi penyandang disabilitas terus didorong melalui berbagai aksi nyata di Kota Pahlawan. Salah satunya diwujudkan oleh komunitas Disabilitas Berkarya yang kembali menyelenggarakan program rutin bertajuk “#SERUHORE Motret Bersama”. Pada edisi kali ini, kegiatan kreatif tersebut dipusatkan di salah satu destinasi ikonik dan bersejarah, yakni Masjid Cheng Hoo Surabaya, pada Minggu (5/7/2026).
Agenda ini dirancang secara khusus sebagai wadah bagi anak-anak dan remaja difabel untuk mengeksplorasi potensi diri mereka lewat lensa kamera. Di samping berfungsi sebagai sarana rekreasi yang edukatif, program ini menitikberatkan pada pengasahan kepekaan visual, pelatihan teknis dasar fotografi, serta penguatan mental dan rasa percaya diri para peserta saat berinteraksi di ruang publik.
Mengasah Kompetensi Teknis dan Mental Penyintas
Pendiri Komunitas Disabilitas Berkarya, Leo Arief Budiman, menjelaskan bahwa program berkala ini memprioritaskan penyediaan ruang berekspresi yang setara bagi penyandang difabel. Menurutnya, melalui aktivitas fotografi, para peserta tidak hanya diajarkan cara mengoperasikan kamera secara teknis, tetapi juga didorong untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Masjid Cheng Hoo dipilih sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Arsitektur masjid yang khas dengan perpaduan budaya Tionghoa dan Islam memberikan lanskap visual yang kaya objek. Hal ini menantang sekaligus mempermudah para peserta disabilitas dalam menangkap komposisi gambar, pencahayaan, dan sudut pandang arsitektur yang estetis.
Sinergi Inklusif Bersama Rumah Anak Prestasi
Aksi kreatif yang berlangsung semarak ini diikuti oleh sekitar 25 anak dan remaja yang bernaung di bawah Rumah Anak Prestasi (RAP) Pemerintah Kota Surabaya. Keterlibatan aktif dinas dan lembaga terkait ini mempertegas komitmen Kota Surabaya dalam mewujudkan ekosistem kota ramah disabilitas yang berkelanjutan dan inklusif.
Kehadiran para peserta dari RAP membuktikan bahwa keterbatasan fisik maupun intelektual tidak menjadi penghalang untuk melahirkan karya seni yang bernilai. Melalui bidikan kamera, anak-anak ini diajak bercerita tentang keindahan keberagaman kota melalui perspektif unik mereka sendiri.
Kolaborasi Lintas Generasi Muda dan Dukungan Yayasan
Guna memperluas dampak inklusi sosial, Disabilitas Berkarya juga membangun jembatan kolaborasi dengan melibatkan elemen mahasiswa. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler fotografi dari program beasiswa “Satu KK Satu Sarjana” Pemerintah Kota Surabaya turut diterjunkan langsung ke lapangan. Mereka bertindak sebagai mentor pendamping sekaligus rekan belajar bersama selama aksi memotret berlangsung.
Langkah kolaboratif yang mendapat dukungan penuh dari Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia ini diharapkan mampu mengikis stigma negatif terhadap kelompok disabilitas di kalangan generasi muda. Melalui interaksi langsung ini, ruang inklusi sosial dapat terbangun secara alami berdasarkan semangat kebersamaan dan saling menghargai. (agu)

