Bagaimana ekosistem kesenian Surabaya harus dibangun? Tampaknya, menjadikan Surabaya sebagai simpul penting dalam ekosistem kesenian global adalah jalan yang masuk akal. Ini akan melengkapi identitas Surabaya sebagai kota perjuangan, kota industri, dan kota dagang.
Sebetulnya, sudah sejak dulu, Surabaya adalah simpul ekosistem global. Sejak zaman kerajaan sampai dengan zaman kolonial. Bahkan, kota ini menjadi kota perdagangan yang berkembang lebih pesat ketimbang Batavia. Konon, dealer Mercedes Benz pertama bukan di Batavia, tapi di Surabaya.
Kesenian bukan sekadar ekspresi keindahan. Ia adalah cermin jiwa kolektif. Ia merekam perasaan zaman. Sekaligus menyalakan obor masa depan. Kesenian adalah refleksi peradaban yang dinamis yang terus berkembang sesuai dengan denyut perubahan.
Karena itu, menurut saya, peradaban tak mungkin dipurifikasi. Seperti halnya sebagian para agamawan yang ingin melakukan purifikasi dalam Islam. Peradaban tak bisa dimurnikan dengan nostalgia yang beku. Seperti adanya gagasan penggunaan kembali aksara Jawa dan menghidupkan Radio Bung Tomo.
Mengapa demikian? Ya karena peradaban merupakan sesuatu yang dinamis. Sesuatu yang tumbuh dari dialog. Dari perjumpaan. Dari keberanian untuk berubah tanpa harus kehilangan akarnya. Berubah dan mengglobal dengan tetap mengakar.
Dari paradigma inilah seharusnya kita membangun strategi kebudayaan kota. Membangun nilai-nilai baru dan kebudayaan baru. Juga rupa karya baru yang sesuai dengan perkembangan global tanpa harus menanggalkan akar lokalitas yang menjadi bagian dari perkembangan kota kita.
Misalnya, gagasan menghidupkan Jalan Tunjungan. Program yang berkembang sejak dua dekade lalu itu bukan semata untuk mengembalikan nostalgia akan mlaku-mlaku nang Tunjungan. Tapi sebagai respon akan kebutuhan ruang publik yang berupa city walk bagi kota yang tumbuh jadi destinasi wisata.
Ia dikembangkan sebagai alternatif ruang interaksi publik selain alun-alun –yang di Surabaya hanya ada alun-alun Contong– dan mall. Menjadi pilihan warga kota maupun pedagang untuk bisa bersapa di alam terbuka. Menjadi bagian dari ekosistem membangun Ashabiyah –meminjam istilahnya Ibnu Khaldun– atau solidaritas sosial.
Berbagai event perkotaan, seharusnya diselenggarakan bukan sekadar pertunjukan, Apalagi hura-hura. Semuanya harus dikonsep membangun ruang interaksi sosial dengan tujuan membangun solidaritas sosial. Dengan demikian, produk kesenian menjadi selalu bermakna sosial dan menyumbang nilai peradaban bagi kotanya.
Kita senang belakangan mulai berlangsung event kesenian berskala besar di Surabaya. Seperti Artsub, festival seni kontemporer yang memamerkan karya seniman terpilih dari berbagai kota. Yang tahun ini akan berlangsung untuk kali kedua setelah event pertama tahun lalu mencatatkan suksesnya.
Tapi akan lebih baik kalau event ini ikut menggerakkan lahirnya karya-karya baru kesenian dari kota ini. Apa pun bentuknya. Dengan demikian, Surabaya tidak hanya menjadi semacam showroom atau gallery. Tapi juga membangkitkan ekosistem baru kesenian dengan makin banyak aktor lokal yang terlibat.
Berbagai kegiatan baru kesenian perlu diikuti dengan tumbuhnya ekosistem intelektual dan kuratorial. Kita perlu ruang gagasan. Bukan sekadar ruang pertunjukan. Perlu disiapkan laboratorium ide, lembaga kurasi, dan festival pemikiran kebudayaan. Jadikan Surabaya tempat karya tak hanya dipamerkan, tapi juga dimaknakan.
Perlu ada kolaborasi yang saling menopang antara seniman, perguruan tinggi dan dunia media. Sebagai pemroduksi karya, seniman perlu akademisi sebagai pemerkaya ide. Setelah karya jadi, perlu pendistribusi karya itu. Media dan kuratorial menjadi pendistrusi pesan dari sebuah karya.
Kedua jadikan kota ini sebagai panggung. Bukan hanya terbatas pada ruang pertunjukan, gallery, dan gedung kesenian. Kita bisa menjadikan terminal lama, pelabuhan, pasar, dan gang sempit sebagai ruang berkesenian. Hidupkan kota dengan nyawa kesenian. di Jogja, setiap sudut dan ruang telah menjadi ajang seni.
Saya dulu membayangkan, plasa Balai Pemuda ini menjadi ruang simpul aktifitas seni publik. Ruang berkarya yang memungkinkan semua jenis dan kelompok kesenian berunjuk karya. Dengan tanpa memikirkan uang sewa apalagi beban biaya alat-alat pertunjukan. Dikelola sebagai simpul kegiatan berbagai karya seni masyarakat.
Sudah cukup banyak kita membangun dan merenovasi gedung dan ruang pertunjukan. Kita semua senang dengan hal itu. Tapi dalam kenyataannya, kita baru sebatas bisa membangun secara fisik. Kita belum bisa menghidupkan bangunan itu dengan kegiatan kreatif berkelanjutan.
Ketiga, saatnya memperkuat koneksi seniman Surabaya dengan jejaring internasional. Peluang ini sebetulnya bukan sekadar mimpi dengan revolusi teknologi digital saat ini. Juga buka ruang residensi dengan memanfaatkan sistercity maupun kunsulat negara-negara yang ada di kota ini.
Kesenian bisa menjadi bagian dari diplomasi kota. Kesenian bukan hanya urusan panggung. Ia adalah bagian dari branding kota, diplomasi antar bangsa, dan rekonsiiasi sosial. Melalui seni, kita membangun jembatan antar generasi, antar komunitas, bahkan antar bangsa.
Bahwa seniman tak mungkin jalan sendiri dalam membangun ekosistem kesenian seperti itu ya. Dimanapun juga, ada kewajiban pemerintah menyediakan sarana-prasarana untuk ekosistem kesenian yang berkelanjutan. Tapi, itu tak cukup tanpa dimulai dari kesadaran para seniman sendiri untuk berkembang bersama menatap masa depan.
Kita perlu meyakini bahwa peradaban bukan soal kembali ke masa lalu. Ia adalah soal bagaimana kita melangkah ke depan dengan membawa kearifan masa lalu dan imajinasi ke depan. Hanya tak akan mungkin kita membangun imajinasi ke depan kalau saat ini bertengkar dengan sesama seniman.
Salam budaya…***
Surabaya, 21 Juli 2024
(Orasi Kebudayaan Dr Arif Afandi pada acara “Surabaya Hari Ini#3 ” di pelataran belakang Balai Pemuda Surabaya)

