Surabaya (prapanca.id) – Kompetensi dan integritas menjadi bekal utama Dr Jokhanan Kristiyono, ST, M.MedKom, dalam mengemban amanah sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS) periode 2023–2027. Sosok yang akrab disapa Jo ini dikenal memiliki latar belakang akademik dan profesional yang unik serta lintas disiplin.
Perjalanan akademik Jo dimulai dari bidang teknik mesin pada 1994. Namun, minatnya justru tertuju pada desain komunikasi visual (DKV). Setelah menyelesaikan pendidikan awal, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan di Banyuwangi sebelum kembali ke Surabaya pada tahun 2000 untuk melanjutkan studi sarjana di bidang yang diminatinya dan lulus pada 2005.
Selepas menamatkan pendidikan S1, Jo lebih banyak berkecimpung di dunia webmaster dan promosi. Pengalaman tersebut membawanya ke ranah marketing communication berbasis digital. Namun, ia menyadari perlunya penguatan teori untuk menopang kompetensi praktis yang dimiliki.
“Sekitar tahun 2006, saya pindah pekerjaan, lebih banyak memegang marketing communication berbasis digital. Di situ mulai struggling karena saya merasa tidak cukup kompetensi teknis saya kalau tidak dibantu dengan peningkatan kemampuan teoritisnya, sehingga saya berpikir bahwa sepertinya saya harus belajar lagi,” katanya.
Keputusan melanjutkan studi pun dijatuhkan dengan memilih Program Studi Media dan Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR). Menurut Jo, pilihan tersebut didasarkan pada relevansi antara teori yang dipelajari dengan praktik profesional yang dijalani.
“Saya berpikir di sini studinya bisa langsung saya implementasikan di pekerjaan saya, meskipun tetap harus di-adjust antara teori dan kenyataan serta fenomena yang ada di masyarakat seperti apa,” imbuhnya.
Jo menyelesaikan studi magister dalam waktu relatif singkat, yakni tiga semester. Selepas lulus, pada awal 2012 ia menerima tawaran menjadi dosen di STIKOSA AWS. Tawaran tersebut disambut tanpa ragu karena sejalan dengan passion-nya di dunia pendidikan.
“Saya sebetulnya suka mengajar, karena di pekerjaan lama juga sempat membantu mengajar meskipun posisinya manager marketing program studi pada salah satu universitas swasta. Saat itu saya mengajar desain komunikasi visual dan di IT mengajar komunikasi interaksi atau yang sekarang dikenal dengan UI/UX,” ucapnya.
Peran sebagai pendidik justru mendorong Jo untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Pada 2017, ia kembali melanjutkan pendidikan doktoral di FISIP UNAIR melalui beasiswa khusus dosen dan berhasil menyelesaikannya pada awal 2020.
Pengabdian panjang di STIKOSA AWS akhirnya mengantarkan Jo pada amanah sebagai Ketua kampus. Meski sempat menolak karena merasa masih banyak senior yang lebih layak, kepercayaan tersebut diberikan atas dasar kompetensi dan integritas yang dinilainya konsisten selama ini.
Dalam kepemimpinannya, Jo menghadapi tantangan baru, terutama terkait budaya organisasi dan pengelolaan sumber daya manusia. “Salah satu hal yang mungkin menjadi tantangan adalah mengubah budaya organisasi, ya. Meskipun ini adalah kampus yang sudah cukup lama, tetapi masih ada banyak hal yang harus kita kembangkan. Mungkin dosen-dosennya sudah siap, tetapi secara manajemen budaya kan tidak terlihat, misalnya sudah ada SOP, tetapi bagaimana implementasinya?” terangnya.
Ke depan, Jokhanan berkomitmen menanamkan nilai berbudaya dan beradab di lingkungan kampus. Ia juga menaruh perhatian besar pada kedekatan relasi antara dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa sebagai penggerak utama institusi pendidikan.
Selain itu, ia mendorong terciptanya iklim akademik yang egaliter dan kolaboratif lintas disiplin ilmu. “Artinya, kita semua bisa berkolaborasi meskipun bidang ilmu yang kita kuasai berbeda-beda. Apalagi sudah ada begitu banyak dukungan riset kolaborasi multidisiplin ilmu dari pemerintah, sehingga saya harap tidak ada lagi pengkotak-kotakan semacam itu,” tuturnya.
Dengan visi tersebut, Jo berharap STIKOSA AWS dapat terus berkembang sebagai institusi pendidikan komunikasi yang adaptif, inklusif, dan relevan dengan tantangan zaman. (sas)

