Surabaya (prapanca.id) – LeBron James kembali menyuarakan pendapatnya terkait salah satu aturan paling kontroversial di NBA saat ini. Dalam episode terbaru siniar Mind the Game, LeBron hadir bersama Tyrese Haliburton sebagai bintang tamu dan membahas berbagai isu seputar liga, termasuk aturan minimal bermain 65 pertandingan sebagai syarat meraih penghargaan individu NBA.
LeBron secara terbuka menyatakan kurang setuju dengan ketentuan tersebut. Menurutnya, aturan ini berpotensi menimbulkan dampak serius, terutama bagi pemain-pemain elite yang performanya tetap berada di level tertinggi meski tidak memenuhi jumlah pertandingan yang disyaratkan.
Aturan minimal 65 pertandingan mulai diberlakukan dalam dua musim terakhir. Setiap pemain diwajibkan tampil setidaknya dalam 65 gim dengan durasi minimal 15 menit per pertandingan untuk dapat masuk dalam penilaian penghargaan individu, seperti MVP dan All-NBA. NBA juga memberikan toleransi maksimal dua pertandingan dengan waktu bermain di bawah 20 menit.
Kebijakan ini awalnya bertujuan untuk membatasi praktik load management dan memastikan bintang-bintang liga lebih sering tampil di lapangan. Namun, dalam praktiknya, aturan tersebut justru memicu perdebatan panjang sepanjang musim ini.
Sejumlah pemain papan atas terancam kehilangan kesempatan meraih penghargaan meskipun menampilkan performa elit. Nikola Jokic dan Giannis Antetokounmpo menjadi contoh nyata musim ini. Keduanya terancam gagal memenuhi syarat akibat cedera yang memaksa mereka menepi dalam beberapa pertandingan.
Victor Wembanyama dan LeBron James sendiri juga terdampak. LeBron tercatat telah melewatkan 14 pertandingan di awal musim, sementara Wembanyama sudah merasakan langsung dampak aturan ini pada musim sebelumnya.
Pada musim lalu, pemain San Antonio Spurs tersebut harus mengakhiri musim lebih cepat akibat pembekuan darah dan hanya tampil dalam 46 pertandingan. Padahal, Wembanyama menutup musim dengan catatan impresif, yakni 24,3 poin, 11 rebound, 3,7 assist, dan 3,8 blok per gim. Akibat tidak memenuhi syarat jumlah pertandingan, ia kehilangan peluang meraih penghargaan Defensive Player of the Year 2025.
Sementara itu, Nikola Jokic musim ini absen hampir satu bulan karena cedera lutut. Pemain Denver Nuggets tersebut baru tampil dalam 32 pertandingan dan direncanakan kembali bermain usai NBA All-Star 2026. Dengan sisa musim yang terbatas, peluang Jokic untuk mencapai angka 65 pertandingan semakin menipis.
LeBron menilai situasi ini berpotensi menciptakan hasil yang janggal dalam penentuan penghargaan.
“Akan sangat aneh melihat daftar All-NBA tanpa Jokic atau Giannis. Ini bukan hanya soal warisan pemain, tapi juga berdampak pada keluarga mereka,” ujar LeBron.
Meski demikian, LeBron tetap mengapresiasi upaya NBA untuk mengurangi load management. Namun, ia menegaskan bahwa aturan minimal 65 pertandingan juga membawa konsekuensi besar, terutama bagi pemain yang berada di tahun terakhir kontrak.
“Jika Anda menjalani musim terbaik dalam karier dan hanya bermain 64 pertandingan, itu bisa menjadi bencana,” kata LeBron.
Ia menyoroti potensi kerugian finansial yang bisa dialami pemain, mulai dari gagal meraih kontrak supermaksimal hingga kehilangan insentif kontrak akibat tidak masuk dalam penilaian All-NBA.
Perdebatan mengenai aturan 65 pertandingan diperkirakan akan terus berlanjut, seiring semakin banyaknya pemain bintang yang terdampak dan mempertanyakan keseimbangan antara kesehatan pemain dan kebijakan liga. (ant)

