Surabaya (prapanca.id) – Memasuki bulan Ramadan, perubahan pola aktivitas harian menjadi hal yang tidak terhindarkan. Waktu makan dan minum yang bergeser, aktivitas ibadah malam seperti tarawih dan tadarus, hingga kebiasaan begadang, turut memengaruhi pola tidur masyarakat. Kondisi ini mendapat perhatian dari dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Universitas Airlangga, Lailatul Muniroh SKM MKes.
Lailatul Muniroh menjelaskan bahwa perubahan pola tidur kerap terjadi saat Ramadan, khususnya di kalangan mahasiswa. Aktivitas sahur yang dilakukan dini hari serta meningkatnya kegiatan malam menyebabkan waktu tidur menjadi lebih larut. Ditambah kebiasaan begadang, durasi dan kualitas tidur pun berpotensi menurun.
Menurutnya, saat berpuasa terjadi perubahan hormon dalam tubuh, termasuk kortisol dan melatonin, yang berperan dalam siklus tidur dan respons stres. Apabila seseorang tetap begadang hingga menjelang sahur tanpa manajemen waktu yang baik, risiko gangguan kualitas tidur semakin besar. Akibatnya, tubuh tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup untuk proses pemulihan.
Ia menegaskan, pola tidur yang berantakan dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan. Dalam jangka pendek, seseorang dapat mengalami kantuk berlebihan di siang hari, penurunan konsentrasi, perubahan suasana hati (mood swing), hingga sakit kepala. Daya tahan tubuh pun dapat menurun karena kurangnya waktu istirahat optimal.
Dalam jangka menengah, gangguan tidur berisiko memengaruhi metabolisme tubuh. Peningkatan hormon stres dapat memicu nafsu makan tidak terkontrol saat berbuka, berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan, serta mengganggu regulasi gula darah dan keseimbangan hormon lapar. Kondisi ini dapat memperburuk kesehatan apabila berlangsung terus-menerus selama Ramadan.
Tidak hanya kekurangan tidur, kelebihan tidur seperti tidur siang terlalu lama juga berdampak kurang baik. Tidur siang lebih dari 30 menit dapat menyebabkan rasa pusing saat bangun dan mengganggu pola tidur malam. Selain itu, metabolisme tubuh dapat melambat jika waktu istirahat berlebihan tidak diimbangi aktivitas fisik yang memadai.
Sebagai solusi, Lailatul Muniroh menyarankan agar masyarakat mengatur waktu tidur lebih awal dan menghindari penggunaan gawai sebelum beristirahat. Ia juga menganjurkan tidur siang singkat selama 20–30 menit untuk memulihkan energi, membatasi konsumsi kafein saat berbuka, melakukan aktivitas fisik ringan di pagi hari, serta memastikan asupan sahur seimbang dan bergizi.
Ia menekankan bahwa Ramadan dapat menjadi momentum membangun kedisiplinan, termasuk dalam menjaga ritme tidur. Dengan pola istirahat yang teratur, kondisi fisik tetap prima sehingga ibadah dapat dijalankan secara optimal. (tas)

