Los Angeles (prapanca.id) – Boston Celtics kembali menunjukkan dominasinya atas Los Angeles Lakers setelah meraih kemenangan meyakinkan 111-89 pada laga Minggu malam waktu setempat.
Kemenangan ini memastikan Celtics menyapu bersih pertemuan musim reguler atas Lakers dalam salah satu rivalitas paling bersejarah di NBA. Dua tim legendaris tersebut memiliki total gabungan 35 gelar juara liga.
Boston kini mencatat tiga kemenangan beruntun dan delapan kemenangan dari sembilan laga terakhir dalam upaya mengejar puncak klasemen Wilayah Timur.
Jaylen Brown tampil dominan dengan torehan 32 poin, delapan rebound, dan tujuh assist. Ia menjadi figur sentral dalam menjaga keunggulan Celtics sepanjang laga.
Sementara itu, Payton Pritchard mencetak 30 poin, termasuk enam tembakan tripoin, serta delapan assist. Keduanya sama-sama menyumbang 19 poin di paruh kedua pertandingan.
Pritchard memastikan kemenangan lewat tembakan step-back tiga angka saat waktu tersisa 3 menit 24 detik. Momen itu membuat Lakers menarik para pemain intinya lebih awal di tengah sorakan kecewa sebagian penonton tuan rumah.
Dari kubu Lakers, Luka Doncic memimpin dengan 25 poin. LeBron James menambahkan 20 poin sekaligus mencatatkan sejarah dengan menembus 43.000 poin sepanjang kariernya di musim reguler NBA.
Tak hanya itu, James juga memainkan laga musim reguler ke-1.600, menyamai pencapaian legenda Celtics, Robert Parish, sebagai dua pemain yang mencapai angka tersebut dalam sejarah liga.
Namun, pencapaian individu tersebut tak mampu menghindarkan Lakers dari kekalahan. Los Angeles hanya mencetak 89 poin, menjadi salah satu total poin terendah mereka musim ini.
Austin Reaves menambah 15 poin, tetapi Lakers tampak frustrasi sepanjang pertandingan. Mereka menerima tiga technical foul setelah beberapa keputusan wasit yang diprotes keras.
Kondisi Lakers sebenarnya hampir penuh, dengan Doncic, James, dan Reaves baru memainkan laga ke-12 bersama musim ini. Namun mereka kehilangan Jaxson Hayes akibat cedera pergelangan kaki sebelum turun minum.
Di sisi lain, Celtics mampu menjaga keunggulan stabil sepanjang babak kedua tanpa tekanan berarti. Pertahanan solid dan efisiensi tembakan menjadi pembeda dalam duel klasik dua raksasa NBA ini.
Pada pertemuan sebelumnya Desember lalu, Celtics juga menang 126-105 di Boston ketika Doncic dan James absen. Kini, meski Lakers tampil dengan kekuatan utama, hasilnya tetap sama.
Kemenangan ini mengirim pesan tegas bahwa Celtics adalah kandidat kuat juara musim ini. Konsistensi performa, kedalaman skuad, dan kontribusi merata menjadi fondasi kekuatan mereka.
Bagi Lakers, kekalahan ini menjadi alarm di tengah upaya membangun chemistry jelang fase krusial musim. Meski LeBron terus mencatatkan sejarah, tim masih membutuhkan stabilitas untuk bersaing dengan elite liga. (ant)

