Surabaya (prapanca.id) – Menjadi dewasa sering kali dianggap sebagai fase kehidupan yang penuh kebebasan dan pencapaian. Namun di balik itu, banyak orang justru menghadapi tekanan yang semakin besar dari berbagai sisi kehidupan.
Mulai dari pekerjaan, kondisi finansial, relasi sosial, keluarga, hingga tuntutan terhadap diri sendiri, semuanya dapat memicu kelelahan emosional jika tidak dikelola dengan baik.
Tidak sedikit orang yang menjalani aktivitas sehari-hari sambil memendam rasa cemas, overthinking, hingga tekanan untuk selalu terlihat baik-baik saja. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh media sosial yang kerap menampilkan kehidupan orang lain terlihat lebih sempurna.
Psikolog Niken Woro Indriastusi dalam sesi IG Live bersama KlikPsikolog pada Senin (18/5/2026) menjelaskan bahwa tekanan hidup yang terus menumpuk dapat berkembang menjadi burnout atau kelelahan emosional.
Menurut Niken, banyak orang tidak menyadari bahwa bertambah dewasa berarti bertambah pula peran yang harus dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang tidak hanya dituntut berhasil dalam pekerjaan, tetapi juga menjalankan peran sebagai anak, pasangan, anggota masyarakat, hingga individu yang harus terus berkembang secara pribadi.
Sayangnya, banyak orang hanya fokus mengejar pencapaian hidup tanpa memahami bahwa beban emosional mereka juga ikut meningkat.
Akibatnya, rasa lelah sering dianggap hal biasa dan dipendam terlalu lama hingga akhirnya memengaruhi kondisi mental.
Niken menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama burnout adalah ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri.
Banyak orang berharap hidupnya segera stabil setelah lulus kuliah atau mulai bekerja. Mulai dari karier mapan, kondisi finansial aman, hubungan sehat, hingga kehidupan keluarga harmonis.
Ketika realita tidak berjalan sesuai harapan, muncul rasa kecewa, tertinggal, bahkan merasa gagal dibanding orang lain.
Kondisi tersebut diperparah oleh kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian yang terlihat di media sosial.
Burnout tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang tetap bisa bekerja, tersenyum, dan menjalani rutinitas seperti biasa, tetapi sebenarnya sudah mengalami kelelahan mental yang cukup berat.
Beberapa tanda burnout yang sering muncul antara lain:
- Bangun tidur tetapi tetap merasa lelah
- Sulit menikmati aktivitas sehari-hari
- Mudah marah dan lebih sensitif
- Menarik diri dari lingkungan sosial
- Sulit tidur atau justru tidur berlebihan
- Sering sakit kepala dan pegal di area leher atau
Menurut Niken, keluhan fisik seperti migrain dan nyeri tubuh sering menjadi sinyal awal bahwa seseorang sedang mengalami tekanan emosional.
Banyak orang terbiasa menahan emosi demi terlihat kuat. Padahal, emosi yang terus dipendam justru dapat memperparah kondisi mental.
Saat mengalami kelelahan emosional, seseorang cenderung menjadi lebih reaktif terhadap situasi sederhana dan mudah tersulut emosi.
Karena itu, mengenali emosi menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental agar tekanan tidak terus menumpuk.
Niken menyarankan beberapa langkah sederhana untuk membantu seseorang lebih memahami kondisi emosinya sendiri.
1. Ambil Jeda Saat Emosi Muncul
Ketika merasa marah, sedih, atau cemas, penting untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi. Memberi jeda membantu pikiran menjadi lebih tenang.
2. Kenali Reaksi Tubuh
Emosi sering muncul melalui respons fisik seperti jantung berdebar, wajah tegang, atau tangan mengepal. Mengenali tanda tersebut dapat membantu seseorang mengontrol respons emosinya.
3. Beri Nama pada Emosi yang Dirasakan
Mengakui emosi seperti sedih, kecewa, atau marah membantu seseorang memahami dirinya sendiri dan lebih mudah mengelola perasaan tersebut.
Dalam proses menjadi dewasa, perubahan hidup dan bertambahnya tanggung jawab merupakan hal yang tidak bisa dihindari.
Karena itu, merasa lelah, cemas, atau kehilangan arah sesekali adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah tidak memendam semuanya sendirian.
Menjalin komunikasi dengan keluarga, sahabat, atau mencari bantuan profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi emosional tetap sehat. (ant)

