Surabaya (prapanca.id) – Bagi banyak orang, bertahan di tempat kerja yang toxic sering kali dilakukan demi alasan finansial. Gaji besar, tunjangan, hingga berbagai fasilitas perusahaan menjadi pertimbangan utama untuk tetap bertahan meski tekanan mental terus dirasakan.
Namun dalam praktiknya, kebutuhan manusia bukan hanya soal uang.
Di balik tuntutan pekerjaan, setiap individu juga membutuhkan rasa dihargai, diakui, dan diperlakukan secara manusiawi di lingkungan kerja.
Konsep ini bahkan dijelaskan dalam teori Hierarchy of Needs milik Abraham Maslow yang menyebut kebutuhan penghargaan sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia.
Dalam dunia kerja, penghargaan dapat hadir dalam bentuk: apresiasi, komunikasi yang sehat, rasa aman, hingga pengakuan atas kontribusi karyawan.
Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, kondisi mental pekerja dapat terganggu meski secara finansial mereka berada dalam posisi aman.
Lingkungan kerja yang dipenuhi tekanan, sikap arogan atasan, hingga budaya saling menjatuhkan perlahan dapat mengikis kesehatan mental pekerja.
Banyak karyawan akhirnya merasa: kehilangan semangat, tidak percaya diri, mudah stres hingga mengalami kelelahan emosional (burnout).
Kepemimpinan yang tidak objektif juga menjadi salah satu faktor utama munculnya budaya kerja tidak sehat.
Alih-alih membangun kolaborasi, lingkungan seperti ini justru dipenuhi: kritik tanpa solusi, micro management, intimidasi, hingga minimnya penghargaan terhadap hasil kerja tim.
Situasi tersebut pernah dialami Yessi (32), mantan pekerja perusahaan swasta di Jakarta.
Meski mendapatkan gaji yang cukup tinggi, ia memutuskan mengundurkan diri setelah merasa terus-menerus tidak dihargai oleh atasannya.
Menurut Yessi, setiap pekerjaan yang ia lakukan selalu dianggap salah. Komunikasi dengan atasan juga terasa buruk dan sering menyakitkan secara emosional.
Setelah keluar dari perusahaan tersebut, ia justru merasa kondisi emosinya menjadi lebih stabil meski penghasilannya saat ini tidak sebesar sebelumnya.
Pengalaman berbeda dirasakan Lia (36), pekerja di Sleman yang sudah bertahan hampir 11 tahun di kantornya.
Bagi Lia, faktor utama yang membuatnya nyaman bekerja bukan hanya soal gaji, tetapi budaya kerja yang sehat dan manajemen yang dinilai adil terhadap karyawan.
Lingkungan kerja yang suportif membuat konflik kecil bisa diselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan tekanan berlebihan.
Konsep psychological safety kini semakin banyak dibahas dalam dunia kerja modern.
Mengutip Psych Safety, lingkungan kerja menjadi tidak sehat ketika karyawan merasa takut untuk berbicara, takut salah, atau khawatir mendapat respons negatif dari atasan.
Beberapa tanda lingkungan kerja yang minim psychological safety antara lain: atasan suka menyalahkan, mengambil kredit hasil kerja tim, komunikasi intimidatif, serta pengawasan berlebihan.
Kondisi seperti ini membuat pekerja sulit berkembang dan perlahan kehilangan rasa aman secara psikologis.
Keputusan untuk bertahan atau resign tentu tidak bisa dibuat secara impulsif.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil langkah besar tersebut.
1. Evaluasi Situasi Secara Jernih
Tidak semua fase sulit di tempat kerja berarti harus resign. Ada kondisi yang masih bisa diperbaiki melalui komunikasi dan adaptasi.
2. Perhatikan Dampaknya terhadap Mental
Jika pekerjaan mulai mengganggu kesehatan mental, kualitas tidur, hubungan sosial, hingga emosi sehari-hari, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius.
3. Coba Cari Solusi Internal
Pekerja disarankan untuk berbicara dengan HR, mendokumentasikan kejadian, serta melaporkan masalah jika situasi tidak membaik.
4. Siapkan Rencana Sebelum Resign
Resign tetap membutuhkan perencanaan matang, terutama terkait kondisi finansial dan peluang pekerjaan berikutnya.
Di masyarakat, resign masih sering dianggap sebagai bentuk kegagalan atau menyerah menghadapi tekanan.
Padahal bagi sebagian orang, keputusan keluar dari lingkungan kerja toxic justru menjadi langkah penting untuk menjaga harga diri dan kesehatan mental.
Tidak semua keberhasilan diukur dari besarnya gaji atau jabatan.
Bekerja di tempat yang menghargai kontribusi, memberi rasa aman, dan mendukung pertumbuhan pribadi juga merupakan bagian penting dari kualitas hidup yang sehat. (ant)

