Surabaya (prapanca.id) – Membangun bisnis bersama sahabat sering dianggap sebagai pilihan ideal. Selain sudah saling mengenal lama, hubungan pertemanan biasanya dilandasi rasa percaya yang kuat sehingga dianggap memudahkan kerja sama dalam menjalankan usaha.
Tidak sedikit perusahaan besar yang lahir dari relasi pertemanan dekat. Media digital asal Amerika Serikat, The Skimm, misalnya, didirikan oleh Danielle Weisberg dan Carly Zakin yang pertama kali bertemu saat program pelajar di Roma, Italia. Begitu pula brand fesyen MESHKI yang dibangun Natalie Khoei dan Shadi Kord, hingga Love, Bonito asal Singapura yang dirintis Rachel Lim bersama Viola dan Velda Tan.
Di balik kisah sukses tersebut, membangun bisnis bersama sahabat ternyata juga menyimpan risiko besar yang kerap tidak disadari banyak orang.
Ketika hubungan pertemanan mulai bersinggungan dengan urusan uang, pembagian tanggung jawab, keuntungan, hingga pengambilan keputusan, konflik bisa muncul sewaktu-waktu.
Pakar manajemen bisnis Noam Wasserman pernah mengingatkan bahwa bisnis bersama teman bisa memperkuat hubungan, tetapi juga berpotensi menghancurkan keduanya sekaligus.
Dalam penjelasannya yang dikutip BBC, Wasserman menilai banyak orang terlalu percaya diri membangun bisnis dengan sahabat karena merasa sudah mengenal satu sama lain secara personal. Padahal, belum tentu mereka memahami bagaimana karakter sahabatnya dalam konteks profesional.
Menurut Wasserman, salah satu masalah terbesar adalah kecenderungan teman dekat menghindari pembicaraan sulit demi menjaga hubungan tetap nyaman. Padahal dalam bisnis, diskusi tentang risiko, kerugian, atau kemungkinan terburuk justru sangat penting.
Ia juga mengungkap hasil riset terhadap sekitar 10 ribu startup teknologi dan sains yang menunjukkan sekitar 40 persen perusahaan dirintis oleh orang-orang yang sebelumnya sudah berteman. Namun, hubungan sosial dalam tim ternyata meningkatkan kemungkinan keluarnya salah satu pendiri bisnis hingga hampir 30 persen.
Sebaliknya, tim bisnis yang dibangun oleh orang-orang yang tidak terlalu dekat justru cenderung lebih stabil karena minim ekspektasi personal.
Dalam hubungan pertemanan, seseorang biasanya lebih toleran terhadap kesalahan kecil. Namun dalam dunia bisnis, setiap keputusan memiliki dampak finansial dan profesional yang serius.
Perubahan dinamika inilah yang sering kali membuat hubungan menjadi rumit. Obrolan yang sebelumnya ringan tentang kehidupan pribadi berubah menjadi pembahasan target, utang, kerugian, dan pembagian keuntungan.
Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut dapat memicu konflik emosional yang akhirnya memengaruhi bisnis maupun hubungan pertemanan.
Meski memiliki risiko, bukan berarti membangun bisnis bersama teman dekat harus dihindari. Dengan komunikasi dan aturan yang jelas, hubungan profesional dan personal tetap bisa berjalan seimbang.
Berikut beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum memulai bisnis bersama sahabat:
1. Jadikan Kepercayaan sebagai Fondasi
Terapis hubungan Shontel Cargill menilai relasi pertemanan yang sudah lama terbangun dapat menjadi modal besar dalam membangun bisnis.
Rasa percaya membuat komunikasi lebih terbuka dan memudahkan proses kolaborasi saat menghadapi masalah. Namun kepercayaan itu tetap harus diiringi profesionalisme agar keputusan bisnis tidak dipengaruhi emosi semata.
2. Semua Pihak Harus Sama-Sama Berkontribusi
Pendiri ArtTouch, Eric N. Shapiro, menekankan pentingnya kontribusi modal yang setara di antara para co-founder.
Menurutnya, ketimpangan modal dapat memicu rasa tidak adil di kemudian hari. Salah satu pihak mungkin merasa bekerja lebih keras atau lebih berhak atas keuntungan bisnis karena memberikan modal lebih besar sejak awal.
Karena itu, seluruh bentuk kontribusi, baik uang maupun tanggung jawab kerja, perlu dibahas secara terbuka sejak awal.
3. Buat Kesepakatan Hukum yang Jelas
Kesalahan yang sering dilakukan banyak sahabat saat membangun bisnis adalah terlalu mengandalkan rasa percaya tanpa membuat perjanjian resmi.
Padahal, kesepakatan legal sangat penting untuk mengatur pembagian saham, tanggung jawab, pengambilan keputusan, hingga penyelesaian konflik.
Dokumen resmi yang disahkan secara hukum dapat membantu melindungi seluruh pihak jika sewaktu-waktu terjadi masalah di masa depan.
4. Pisahkan Waktu Teman dan Waktu Kerja
Salah satu tantangan terbesar bisnis bersama sahabat adalah sulit memisahkan hubungan personal dan profesional.
Pendiri Alder New York, Nina Zilka dan David Krause, menerapkan aturan tegas bahwa seluruh pembahasan pekerjaan hanya dilakukan pada jam kerja. Di luar itu, mereka kembali menikmati hubungan sebagai teman.
Cara serupa juga dilakukan pendiri AppDirect, Dan Saks dan Nicolas Desmarais, yang rutin meluangkan waktu untuk aktivitas santai bersama agar hubungan pertemanan tetap terjaga di luar urusan bisnis.
Membangun bisnis bersama sahabat memang bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus penuh tantangan. Relasi yang sudah terjalin lama dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun visi bersama.
Namun tanpa komunikasi sehat, keterbukaan, dan aturan yang jelas, hubungan tersebut juga rentan berubah menjadi sumber konflik.
Karena itu, sebelum memutuskan menjadi partner bisnis dengan sahabat sendiri, penting untuk memastikan bahwa semua pihak siap menghadapi dinamika profesional tanpa mengorbankan hubungan pertemanan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. (ant)

