Surabaya (prapanca.id) – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, secara resmi melantik jajaran pengurus Dekranasda Jatim serta tiga ketua Dekranasda kabupaten, yaitu Pamekasan, Trenggalek, dan Pacitan, dalam acara yang digelar di Kantor Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Kamis (24/7/2025).
Pelantikan tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Nomor 37.02/DEKRAN/SK/VII/2025 untuk pengurus provinsi, serta Nomor 125/01.01/DEKRAN.JATIM/SK/III/2025 untuk tiga ketua Dekranasda kabupaten.
Dalam kesempatan itu, Arumi yang didampingi Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, menyampaikan pentingnya inovasi dalam mengelola serta memajukan sektor kerajinan daerah, khususnya yang berbasis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Saya berharap, kepengurusan dan para ketua Dekranasda yang baru bisa hadir dengan inovasi yang segar dan relevan, agar pembinaan terhadap pelaku UMKM lebih sesuai dengan zaman,” ujar Arumi.
Produk Kerajinan Jatim Berpotensi Mendunia
Menurut Arumi, sektor kerajinan di Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional. Salah satu contohnya adalah batik Jatim, yang kini tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga mulai dilirik di luar negeri.
“Produk batik kita sangat kompetitif di pasar global. Tapi itu tidak cukup. Harus ada inovasi berkelanjutan agar UMKM mendapatkan keuntungan maksimal,” tambahnya.

Arumi juga menyoroti berbagai kerajinan khas daerah seperti anyaman dari Trenggalek, kerajinan kuningan, hingga produk limbah daur ulang yang ramah lingkungan.
“Setiap kerajinan punya cerita dan nilai unik. Bahkan, limbah pun bisa diolah menjadi fashion yang bernilai tinggi. Ini yang perlu terus dikembangkan,” ujarnya.
Dekranasda Didorong Lebih Aktif dan Progresif
Arumi menekankan agar Dekranasda tidak hanya fokus pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi pelaku kerajinan di daerah.
“Kita harus mempertajam kapasitas diri dan organisasi. Dekranasda harus hadir sebagai motor penggerak ekonomi kreatif, bukan sekadar simbol,” tegasnya.
Ia juga berharap sinergi antara pengurus provinsi dan daerah bisa memperkuat jejaring antarwilayah dan melahirkan inovasi yang saling melengkapi.
“Semoga pada 2030, Jawa Timur bisa dikenal sebagai pusat kerajinan unggulan yang sukses tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional,” pungkasnya. (agu)

