Surabaya (prapanca.id) – Tren intermittent fasting kerap disebut efektif menurunkan berat badan dan memperbaiki metabolisme. Namun, praktik tersebut berbeda secara mendasar dengan puasa Ramadan yang dijalankan umat Muslim setiap tahun. Hal ini disampaikan oleh Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), Mahmud Aditya Rifqi S Gz M Si PhD, dalam keterangannya pada Selasa (18/2/2026).
Menurut Mahmud, perbedaan utama terletak pada tujuan pelaksanaannya. Puasa Ramadan berorientasi ibadah, sedangkan intermittent fasting umumnya diterapkan untuk tujuan kesehatan seperti pengaturan berat badan dan peningkatan sensitivitas insulin.
“Secara konsep keduanya sama-sama mengatur jendela makan atau time-restricted eating. Namun niat dan penerapannya berbeda,” jelasnya.
Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam, dari sahur hingga berbuka, tanpa asupan makanan maupun minuman. Sementara itu, intermittent fasting memiliki berbagai metode, seperti pola 16:8 (16 jam puasa dan 8 jam makan), 5:2, eat stop eat, hingga one meal a day.
Mahmud menambahkan, dalam intermittent fasting masih diperbolehkan konsumsi air putih atau minuman non-kalori selama periode puasa. Berbeda dengan Ramadan yang melarang makan dan minum sama sekali selama waktu berpuasa.
Dari sisi ilmu gizi, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan energi sesuai kebutuhan tubuh. Tubuh memerlukan waktu 3–6 jam untuk mencerna makanan dan memiliki ritme biologis alami dalam mengatur metabolisme. Karbohidrat yang tidak langsung digunakan akan disimpan sebagai glikogen dan dipecah kembali saat tubuh membutuhkan energi.
“Puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin, yang bermanfaat untuk pengendalian gula darah,” ujarnya.
Meski demikian, Mahmud mengingatkan agar asupan kalori tidak berada di bawah kebutuhan minimal atau basal metabolic rate (BMR). Defisit energi ekstrem berisiko menurunkan massa otot karena tubuh menggunakan protein sebagai sumber energi.
Untuk praktik intermittent fasting, ia menyarankan pengurangan kalori bertahap sekitar 300–500 kkal per hari, tanpa melewati batas minimal kebutuhan tubuh.
Sementara itu, dalam puasa Ramadan, Mahmud menyarankan agar masyarakat tidak mengonsumsi makanan berlebihan saat berbuka. Pola makan seimbang dengan satu kali makan utama, sahur bergizi, serta asupan cairan minimal delapan gelas per hari perlu dijaga.
“Puasa Ramadan bukan hanya ibadah, tetapi juga momentum memperbaiki pola makan secara sehat dan seimbang,” pungkasnya. (tas)

