Surabaya (prapanca.id) – Semangat literasi menggema di Amphiteater lantai 9 Kampus Gunung Anyar UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Ruang tersebut dipadati mahasiswa yang antusias mengikuti Konferensi Mahasiswa Sastra Indonesia 2025, yang menghadirkan sosok inspiratif, Adira Marsa Yafi Prasasti, S.S., Gr., seorang alumni berprestasi.
Sebagai penulis, pendidik, dan akademisi muda, Adira membagikan perjalanan kariernya yang berawal dari fondasi ilmu sastra menuju pencapaiannya yang gemilang di dunia kepenulisan dan akademik.
Dalam paparannya, Adira menekankan bahwa esensi menulis melampaui sekadar mencari pengakuan. “Menulis bukan hanya tentang mencari pengakuan, tapi tentang proses mengenal diri dan memberi makna pada sekitar kita,” ujarnya dengan penuh semangat, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima.
Bukti komitmennya dalam dunia tulis-menulis diwujudkan melalui karya-karya konkret. Ia telah meluncurkan buku berjudul Bahasa dan Sastra Indonesia (CV Askara Sastra Media, 2025) dan aktif mempublikasikan artikel ilmiah yang terindeks SINTA. Prestasinya juga melanglang buana, dengan menjadi delegasi Student Mobility UINSA ke Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia pada 2023.
Konsistensi dan Keberanian untuk Memulai
Sebagai lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dengan predikat cumlaude (IPK 4,00) dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Adira memberikan pesan mendalam tentang konsistensi dan keberanian.
“Kesempatan tidak datang dua kali, tapi kemampuan bisa diasah berkali-kali. Yang penting berani mulai,” tegasnya, mengajak mahasiswa untuk tidak takut mengambil langkah pertama dalam berkarya.
Ia juga menyoroti hubungan simbiosis antara sastra dan pendidikan. Baginya, sastra bukan sekadar kumpulan karya imajinatif, melainkan sebuah ruang untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan empati yang dalam.
Ajakan untuk Berkarya sejak Dini
Pada sesi tanya jawab, atmosfer dialog semakin hidup. Adira kembali mengobarkan motivasi para peserta untuk tidak menunda-nunda dalam menghasilkan karya.
“Kalau kamu menulis, berbicara, atau berorganisasi lakukan dengan hati. Karena yang membedakan mahasiswa biasa dan luar biasa adalah keberanian untuk berproses,” tuturnya, menutup sesi dengan pesan yang mengena.
Konferensi ini menjadi wujud nyata komitmen Fakultas Adab dan Humaniora UINSA dalam menciptakan ruang dialog inspiratif antara mahasiswa dan alumni. Melalui kegiatan semacam ini, diharapkan budaya literasi dan semangat berkarya dapat terus tumbuh dan berkelanjutan di kalangan generasi muda. (tia)

