Surabaya (prapanca.id) – UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) kembali menjadi rujukan pengembangan pendidikan tinggi berstandar internasional di Indonesia. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan kunjungan benchmarking ke International Office UINSA untuk mempelajari tata kelola program Joint Degree yang telah dijalankan bersama University of Canberra (UC), Australia.
Kunjungan yang berlangsung pada 11 Juni 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya FITK UIN Jakarta dalam memperkuat strategi internasionalisasi pendidikan tinggi. Fokus utama diskusi adalah pengelolaan Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris UINSA yang terhubung dengan program Master of Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL) milik University of Canberra.
Dalam pertemuan tersebut, tim International Office UINSA memaparkan pengalaman mereka membangun dan mengelola program Joint Degree yang kini menjadi salah satu model kolaborasi internasional perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia. Program tersebut merupakan implementasi kerja sama resmi antara UINSA dan University of Canberra yang turut mendapat dukungan dari Australia Awards Indonesia (AAI).
Selain membahas aspek akademik, diskusi juga menyoroti model pendanaan yang menjadi salah satu faktor penting keberhasilan program. UINSA menjelaskan bahwa skema yang diterapkan menggunakan mekanisme co-sharing, di mana sebagian besar pembiayaan didukung oleh Australia Awards Indonesia, sementara sisanya mendapat dukungan dari Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA) di bawah Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia.
Model pendanaan tersebut dinilai mampu membuka akses yang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh pengalaman belajar internasional tanpa harus menanggung seluruh biaya pendidikan secara mandiri. Pendekatan kolaboratif antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan mitra internasional menjadi salah satu kunci keberlanjutan program.
Tim UINSA juga memaparkan berbagai tahapan strategis yang harus ditempuh sebelum sebuah program Joint Degree dapat diimplementasikan. Proses tersebut dimulai dari identifikasi calon universitas mitra yang memiliki kesesuaian visi dan kualitas akademik, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan dokumen kerja sama berupa Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA).
Menurut paparan yang disampaikan, keberhasilan program internasional tidak hanya ditentukan oleh hubungan antarkampus. Dukungan kementerian atau lembaga pemerintah terkait juga menjadi faktor penting. Dalam praktik yang dijalankan UINSA, University of Canberra turut menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia untuk memastikan keberlangsungan program berjalan sesuai regulasi dan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia.
Peserta benchmarking juga mendapatkan gambaran mengenai tahapan teknis penyusunan program, mulai dari penyusunan Letter of Intent (LoI), pengisian dokumen Split Site Master Program (SSMP), hingga penyusunan proposal bersama yang diajukan kepada PUSPENMA. Proposal tersebut mencakup kesiapan akademik, mekanisme pelaksanaan, hingga pembagian tanggung jawab pembiayaan antara seluruh pihak yang terlibat.
Pada implementasinya, program Joint Degree UINSA dan University of Canberra mengatur pembiayaan studi selama masa pendidikan di Indonesia melalui dukungan PUSPENMA. Setelah itu, Australia Awards Indonesia berperan dalam proses dukungan pendanaan lanjutan melalui mekanisme seleksi peserta yang berhak mengikuti program internasional tersebut.
Suasana diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari delegasi FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terkait tantangan, peluang, dan strategi membangun kemitraan global yang berkelanjutan. Melalui kunjungan ini, peserta tidak hanya memperoleh wawasan teknis mengenai penyelenggaraan Joint Degree, tetapi juga pemahaman tentang pentingnya membangun ekosistem kolaborasi internasional yang kuat.
Kunjungan benchmarking tersebut diharapkan menjadi langkah awal lahirnya lebih banyak program pendidikan internasional di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Selain meningkatkan kualitas akademik, program semacam ini dinilai mampu memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap jejaring global, pengalaman lintas negara, serta peluang pengembangan kompetensi yang lebih kompetitif.
Praktik baik yang dibagikan UINSA menunjukkan bahwa keberhasilan program internasional memerlukan perencanaan yang matang, dukungan pendanaan yang berkelanjutan, serta kemitraan strategis yang saling menguntungkan. Dengan semakin banyaknya kolaborasi internasional yang terbangun, perguruan tinggi Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan reputasi global sekaligus mencetak lulusan yang siap bersaing di tingkat internasional.
Langkah FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mempelajari model Joint Degree yang dikembangkan UINSA menjadi sinyal positif bahwa transformasi pendidikan tinggi Indonesia menuju standar global terus bergerak maju. Kolaborasi semacam ini diharapkan dapat memperkuat daya saing perguruan tinggi nasional sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi muda Indonesia untuk memperoleh pengalaman akademik kelas dunia. (tas)

