Surabaya (prapanca.id) – Merebaknya kasus superflu yang disebabkan oleh virus Influenza A (H2N3) subclade K menjadi perhatian serius di bidang kesehatan masyarakat. Hingga awal Januari 2026, tercatat sebanyak 62 kasus superflu ditemukan di Indonesia yang tersebar di delapan provinsi. Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 23 pasien terkonfirmasi positif.
Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Luar Biasa (LB) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) sekaligus pakar Public Health, Dr. Windhu Purnomo dr., MS, menegaskan bahwa gejala superflu secara umum menyerupai flu biasa.
“Gejalanya mirip flu pada umumnya, seperti demam, batuk, dan pilek. Secara kasat mata sulit dibedakan. Namun, jika muncul sesak napas atau keluhan tidak kunjung membaik, masyarakat perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Menurut Windhu, diagnosis superflu memerlukan pemeriksaan lanjutan melalui uji laboratorium, salah satunya dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS) untuk mendeteksi virus H2N3 pada manusia. Selain itu, superflu diketahui memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dibandingkan flu biasa.
Meski demikian, Windhu menekankan bahwa superflu bukan penyakit yang sangat berbahaya. Hal ini tercermin dari rendahnya angka hospitalisasi dan fatalitas. “Jika sistem imun tubuh baik, penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun tetap tidak boleh dianggap remeh,” ujarnya.
Dalam upaya pencegahan, Windhu menggarisbawahi pentingnya penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Mengingat superflu menyebar melalui droplet, masyarakat diimbau untuk rutin mencuci tangan, menggunakan masker, berolahraga secara teratur, serta mencukupi waktu istirahat.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi terkait superflu. “Cari informasi dari sumber yang kredibel dan hindari menyebarkan hoaks yang justru menimbulkan kepanikan,” tambahnya.
Windhu menutup dengan menegaskan pentingnya surveilans kesehatan oleh pemerintah untuk memantau kasus Influenza Like Illness (ILI) dan melakukan pengujian lanjutan. “Masyarakat tidak perlu panik, tetap jaga kesehatan dan terapkan PHBS. Pemerintah harus menyampaikan data yang akurat dan proporsional,” pungkasnya. (tas)

