Surabaya (prapanca.id) – Kebiasaan berbuka puasa dengan makanan atau minuman manis sudah menjadi tradisi yang umum di Indonesia selama bulan Ramadan. Berbagai hidangan seperti kolak, sirup, hingga teh manis kerap menjadi pilihan untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga setelah berpuasa seharian.
Namun, para ahli kesehatan mengingatkan agar masyarakat tidak mengonsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan saat berbuka.
Setelah sekitar 12 hingga 14 jam berpuasa, tubuh memang membutuhkan energi untuk kembali beraktivitas. Meski demikian, konsumsi gula yang terlalu banyak justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
Dokter spesialis penyakit dalam sub endokrin metabolik dari Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, Ali Baswedan, menjelaskan bahwa makanan atau minuman manis saat berbuka sebenarnya tidak sepenuhnya dilarang.
Namun, ia menekankan pentingnya memperhatikan jumlah yang dikonsumsi.
Menurutnya, makanan dengan kadar gula tinggi dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara cepat. Kondisi ini biasanya diikuti penurunan gula darah dalam waktu singkat sehingga tubuh terasa cepat lelah dan lapar kembali.
Fenomena tersebut berkaitan dengan konsep Indeks Glikemik, yaitu ukuran yang menunjukkan seberapa cepat makanan berkarbohidrat meningkatkan kadar gula darah.
Makanan dengan indeks glikemik tinggi seperti nasi putih, roti, serta minuman manis dapat memicu kenaikan gula darah secara drastis.
Ali juga mengingatkan bahwa konsumsi nasi dalam porsi besar saat berbuka dapat memicu tubuh memproduksi hormon insulin dalam jumlah tinggi.
Untuk menjaga keseimbangan gula darah, ia menyarankan agar porsi karbohidrat tidak berlebihan dan dikombinasikan dengan sumber protein serta sayuran yang kaya serat.
Serat berperan memperlambat proses penyerapan gula dalam sistem pencernaan sehingga kadar gula darah menjadi lebih stabil.
Risiko lonjakan gula darah ini menjadi lebih serius bagi orang yang memiliki kondisi Diabetes atau pradiabetes. Bagi kelompok tersebut, menjaga kestabilan gula darah selama Ramadan menjadi hal yang sangat penting.
Ali menyarankan pola berbuka puasa yang lebih sehat dengan memulai konsumsi air putih dan makanan ringan seperti kurma atau buah.
Setelah itu, makanan utama sebaiknya dikonsumsi setelah salat Maghrib dengan komposisi gizi yang seimbang.
Sementara untuk sahur, ia merekomendasikan makanan dengan karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, kentang, jagung, ubi, serta kacang-kacangan.
Jenis makanan ini dapat memberikan energi yang lebih tahan lama selama menjalankan puasa.
Selain jenis makanan, jumlah gula tambahan juga perlu diperhatikan.
World Health Organization merekomendasikan konsumsi gula tambahan maksimal sekitar 50 gram atau setara 4 hingga 10 sendok teh per hari.
Dalam praktiknya, batas tersebut sering kali terlampaui tanpa disadari. Sebagai contoh, satu gelas sirup atau teh manis dapat mengandung sekitar 20 hingga 30 gram gula.
Artinya, hanya dari satu gelas minuman manis saja seseorang sudah mendekati bahkan melewati batas konsumsi gula harian yang dianjurkan. (ant)

