Surabaya (prapanca.id) – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Prof Dr Fauzan MPd menegaskan bahwa pendidikan tinggi memegang peran strategis dalam menentukan masa depan bangsa. Menurutnya, hanya melalui pendidikan yang bermutu, Indonesia mampu berdiri mandiri dan berdaya saing di tingkat global.
Hal tersebut disampaikan Prof Fauzan dalam forum akademik di Surabaya, Jumat (6/2/2026). Ia menekankan bahwa revitalisasi pendidikan tinggi menjadi langkah mendesak guna meningkatkan mutu, relevansi, dan kapasitas perguruan tinggi dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.
“Tidak ada alasan untuk tidak melakukan revitalisasi pendidikan tinggi. Pendidikan adalah kunci dari segalanya dan menjadi pondasi utama pembangunan bangsa,” ujarnya.
Prof Fauzan menilai penguatan kelembagaan serta tata kelola tridarma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—harus menjadi pedoman utama dalam menghadapi tantangan nasional maupun global. Revitalisasi tersebut, lanjutnya, membutuhkan modal yang kuat, terutama berbasis data empiris yang akurat sebagai dasar perumusan kebijakan.
Ia juga mengingatkan amanat Pasal 31 Ayat 5 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan peran negara dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai agama dan persatuan bangsa.
“Perguruan tinggi adalah penyangga utama lahirnya peradaban bangsa. Jika perguruan tinggi unggul, maka peradaban bangsa juga akan unggul,” katanya.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Indonesia saat ini memiliki 4.416 perguruan tinggi dengan lebih dari 303 ribu dosen dan hampir 10 juta mahasiswa. Namun demikian, pendidikan tinggi masih menghadapi persoalan utama pada aspek mutu, relevansi, dan akses. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi secara nasional baru mencapai sekitar 32 persen.
Prof Fauzan menegaskan, revitalisasi pendidikan tinggi harus menjadi gerakan bersama agar perguruan tinggi mampu berkontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa. (tas)

