Surabaya (prapanca.id) – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional setelah menerima penghargaan Simpul Jaringan Terbaik Nasional Kategori Perguruan Tinggi Tahun 2026 dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan UNAIR dalam mengembangkan dan mengelola Sistem Informasi Kearsipan Nasional (SIKN) yang dinilai memenuhi standar pengelolaan arsip modern dan terintegrasi.
Penghargaan diserahkan langsung di Kantor ANRI, Jakarta, Rabu (20/5/2026), dan diterima oleh Direktur Sumber Daya Manusia, Manajemen Talenta, dan Pengembangan Organisasi UNAIR, Prof. Dr. Radian Salman, SH., LLM.
Capaian tersebut menjadi pengakuan atas konsistensi UNAIR dalam memperkuat tata kelola arsip berbasis digital, sekaligus mendorong keterbukaan informasi publik di lingkungan perguruan tinggi. Selain itu, penghargaan ini juga menunjukkan komitmen kampus dalam menjaga akuntabilitas administrasi dan dokumentasi kelembagaan secara berkelanjutan.
Sekretaris Universitas Airlangga, Prof. Dr. Dwi Setyawan, SSi., MSi., Apt., mengatakan bahwa penghargaan tersebut bukan sekadar simbol pencapaian administratif, melainkan bentuk apresiasi terhadap kerja kolektif seluruh sivitas akademika dalam membangun sistem kearsipan yang tertata dan mudah diakses.
Menurutnya, tata kelola arsip memiliki fungsi strategis karena berkaitan langsung dengan pertanggungjawaban institusi kepada publik. Oleh sebab itu, pengelolaan arsip tidak hanya berfokus pada penyimpanan dokumen, tetapi juga memastikan informasi dapat diakses secara cepat, valid, dan akurat ketika dibutuhkan.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi UNAIR untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan arsip, baik arsip dinamis maupun arsip statis. Kearsipan bukan hanya soal administrasi, tetapi bagian penting dari akuntabilitas publik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir UNAIR terus melakukan transformasi sistem kearsipan melalui digitalisasi dokumen dan integrasi data antar-unit kerja. Sistem tersebut memungkinkan berbagai arsip yang sebelumnya tersebar di fakultas maupun unit kerja dapat terhubung dalam satu ekosistem data yang lebih terstruktur.
Langkah digitalisasi itu dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan dokumen sekaligus mempermudah proses pencarian arsip. Dengan sistem yang terintegrasi, proses pelayanan informasi kepada masyarakat maupun kebutuhan administrasi internal dapat dilakukan lebih cepat dan transparan.
Prof. Dwi menambahkan bahwa keberhasilan pengelolaan arsip di UNAIR juga ditunjang oleh kesiapan sumber daya manusia, dukungan regulasi, serta penguatan sarana dan prasarana pendukung. Selain itu, komitmen pimpinan universitas dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi pengembangan sistem kearsipan modern.
Sebagai bentuk penguatan keterbukaan informasi publik, UNAIR juga menghadirkan Museum Digital Arsip yang berada di Gedung Airlangga Sharia & Entrepreneurship Education Center (ASEEC). Fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat mengakses berbagai dokumen dan informasi historis mengenai perkembangan universitas secara lebih mudah.
“Melalui museum digital ini, publik dapat melihat perjalanan dan dokumentasi penting universitas secara terbuka. Ini menjadi bagian dari komitmen kami dalam menghadirkan akses informasi yang inklusif,” jelasnya.
Di balik penghargaan nasional tersebut, UNAIR juga menghadapi sejumlah tantangan dalam proses pembenahan sistem kearsipan. Salah satu kendala yang pernah dihadapi adalah perpindahan gedung dan penyimpanan dokumen yang tersebar di berbagai lokasi, sehingga memerlukan proses penataan ulang secara bertahap.
Selain itu, proses digitalisasi arsip juga membutuhkan waktu dan koordinasi lintas unit karena harus memastikan seluruh dokumen terdokumentasi dengan baik serta tetap menjaga keaslian arsip.
Meski demikian, berbagai tantangan tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi antarunit kerja dan peningkatan kesadaran pentingnya pengelolaan arsip di lingkungan kampus. Gerakan penataan arsip kini dilakukan secara kolektif mulai dari tingkat fakultas hingga unit administrasi universitas.
Prof. Dwi menilai penilaian objektif dari ANRI semakin memperkuat kesadaran bahwa pengelolaan arsip yang baik telah menjadi kebutuhan penting bagi institusi pendidikan tinggi. Menurutnya, sistem kearsipan yang tertata juga akan mendukung kualitas tata kelola universitas secara keseluruhan.
Ke depan, UNAIR berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi di bidang kearsipan agar seluruh program dan layanan universitas dapat terintegrasi dengan sistem informasi nasional. Upaya tersebut sejalan dengan visi “UNAIR Berdampak” yang menekankan pentingnya kontribusi nyata perguruan tinggi bagi masyarakat.
“Penyediaan informasi yang valid, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi bagian dari upaya universitas untuk memberikan manfaat nyata kepada publik,” pungkasnya. (tas)

