Surabaya (prapanca.id) – Prestasi membanggakan diraih Universitas Airlangga (UNAIR) setelah tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) berhasil meraih Medali Perak pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-38. Riset yang mereka ajukan menyoroti eksploitasi seksual anak dalam aktivitas roleplay digital, sebuah isu yang semakin relevan seiring meningkatnya interaksi daring di kalangan remaja.
Tim beranggotakan Fadiani Risqita Mamang, Mardhatillah, Nafisa, Vanessa, dan Gaby—seluruhnya mahasiswa Fakultas Psikologi UNAIR angkatan 2022—mengembangkan riset mulai dari penyusunan metodologi, pengolahan data, hingga publikasi ilmiah.
Perjalanan Riset dan Temuan Utama
Pada tahap awal penyusunan penelitian, masing-masing anggota membawa sudut pandang berbeda terkait fokus masalah dan pendekatan riset. Perbedaan itu akhirnya mengarah pada keputusan menggunakan mixed method exploratory sequential design sebagai metode yang dianggap mampu menggambarkan fenomena secara lebih komprehensif.
Motivasi akademis dan pengalaman lapangan memperkuat arah penelitian. Mardhatillah menyampaikan bahwa temuan di lapangan memperlihatkan bagaimana lima dari tujuh bentuk Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA) versi UNICEF muncul dalam konteks roleplay digital, termasuk pola online grooming dan keterlibatan konten berunsur eksploitasi anak. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ruang roleplay digital bukan sekadar aktivitas permainan, melainkan dapat menjadi medium terjadinya eksploitasi terselubung.
Selama analisis data, tim menghadapi risiko interpretasi yang sensitif. Nafisa menjelaskan bahwa mereka menerapkan teknik member check dan memperluas variasi partisipan untuk meminimalkan bias. Sementara itu, Gaby menuturkan bahwa pengembangan Skala Adiksi Seksual Roleplay-Digital (SAS-RD) melalui penilaian ahli psikologi profesional dilakukan untuk memastikan kelayakan instrumen secara ilmiah.
Tantangan Etis dan Dampak Riset
Sensitivitas topik membuat aspek etika menjadi perhatian utama. Fadiani menceritakan bahwa seluruh proses wawancara dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan atau memicu pengalaman traumatis pada partisipan anak. Setiap bentuk pertanyaan dirancang tanpa paksaan dan mengikuti pedoman etika penelitian secara ketat.
Riset ini tidak hanya menghasilkan instrumen SAS-RD, tetapi juga dua policy brief yang ditujukan kepada kementerian terkait. Vanessa menyampaikan bahwa instrumen tersebut berpotensi digunakan sebagai langkah deteksi dini terhadap risiko adiksi seksual dalam roleplay digital, meski penerapannya tetap harus dibarengi edukasi publik agar tidak memunculkan stigma baru terhadap anak maupun platform.
Nafisa menambahkan bahwa dilema etis kerap muncul selama penelitian karena tim berinteraksi langsung dengan anak yang memiliki pengalaman sensitif. Setiap keputusan metode dan proses wawancara, menurutnya, selalu diambil secara kolektif demi memastikan perlindungan partisipan tetap menjadi prioritas.
Momen Pengumuman dan Kebanggaan Tim
Pengumuman raihan medali menjadi momen paling emosional bagi tim. Vanessa menggambarkan bagaimana dirinya sempat tidak percaya sebelum akhirnya larut dalam haru di atas panggung. Bagi seluruh anggota, penghargaan ini bukan sekadar pencapaian akademis, melainkan penegasan bahwa isu perlindungan anak di ruang digital perlu mendapatkan perhatian lebih luas.
Keberhasilan tim PKM-RSH UNAIR dalam mengangkat isu yang sensitif dan kompleks ini menandai kontribusi penting dunia akademik dalam memperkuat literasi, kebijakan, serta kesadaran publik terkait perlindungan anak di ranah digital. (agu)

