Yogyakarta (prapanca.id) – Universitas Gadjah Mada kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi dengan tata kelola kemahasiswaan terbaik di Indonesia. Kampus tersebut kembali meraih predikat unggul pada penilaian Sistem Informasi Kinerja dan Tata Kelola Kemahasiswaan (SIMKATMAWA) 2025 yang diberikan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Penilaian dilakukan berdasarkan verifikasi dokumen kemahasiswaan tahun 2024, dengan cakupan aspek kelembagaan, prestasi non-lomba, rekognisi, hingga pelaksanaan program Direktorat Belmawa.
Direktur Direktorat Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, menilai pencapaian tersebut sebagai buah dari penguatan proses pembinaan yang konsisten serta keluaran berupa beragam prestasi mahasiswa.
Menurutnya, keberhasilan itu lahir dari kolaborasi lintas unit yang selama ini menopang terbentuknya ekosistem kemahasiswaan yang sehat dan terarah. Ia juga menekankan bahwa pengelolaan kegiatan kemahasiswaan di UGM terus ditata agar selaras dengan kebutuhan pengembangan karakter dan kompetensi mahasiswa.
Hempri menuturkan bahwa dukungan fakultas dan partisipasi aktif mahasiswa menjadi komponen penting dalam menjaga kualitas tata kelola. Sejumlah capaian mahasiswa dinilai mencerminkan meningkatnya mutu ekosistem belajar, sementara sinergi antara unit kemahasiswaan dan pimpinan universitas menjadi fondasi bagi keberlanjutan prestasi pada tahun-tahun berikutnya.
Predikat unggul SIMKATMAWA dipandang sebagai dorongan bagi UGM untuk memperkuat pendampingan mahasiswa. Hempri menyampaikan bahwa peningkatan tata kelola harus sejalan dengan respons cepat terhadap dinamika kebutuhan mahasiswa, termasuk melalui pembaruan sistem dokumentasi agar pelaporan dan penilaian menjadi lebih akurat. Pengembangan program pembinaan juga terus diprioritaskan agar lahir prestasi yang lebih solid dan berdampak.
UGM menargetkan terciptanya prestasi berkelanjutan melalui integrasi program kewirausahaan, kepemimpinan, dan kreativitas. Hempri menilai bahwa prestasi bukan sekadar hasil kompetisi, tetapi merupakan rangkaian proses yang sistematis dan berkesinambungan. Hilirisasi prestasi ke bentuk implementasi konkret juga menjadi bagian dari strategi penguatan karakter mahasiswa.
Sebagai penilaian tahunan, SIMKATMAWA menuntut konsistensi kinerja sehingga pembaruan tata kelola menjadi agenda utama. Hempri menyebut bahwa UGM memiliki modal kuat berupa budaya akademik yang suportif terhadap pengembangan potensi mahasiswa, ditambah upaya peningkatan kapasitas SDM pembina yang terus dilakukan. Kampus juga tengah memetakan strategi untuk menghadapi penilaian mendatang, termasuk penguatan layanan dan perluasan ruang apresiasi bagi mahasiswa.
Menurut Hempri, daya saing mahasiswa harus dijaga melalui program yang relevan dan berorientasi jangka panjang. Fokus penguatan diarahkan pada kompetensi kepemimpinan, kreativitas, dan kewirausahaan, sementara kolaborasi lintas unit terus diperkokoh sebagai elemen yang memperkuat keberhasilan penilaian SIMKATMAWA. Ia juga menyoroti pentingnya ketahanan ekosistem kemahasiswaan dalam menghadapi tantangan global dan perubahan kebijakan pendidikan tinggi.
Saat ini Ditmawa UGM membina sekitar 26 komunitas dan 51 unit kegiatan mahasiswa (UKM). Seluruhnya terus didorong mempertahankan sekaligus meningkatkan capaian prestasi. Kampus juga menyiapkan berbagai bentuk apresiasi, mulai dari insentif bagi mahasiswa berprestasi, dukungan pendanaan organisasi, hingga beasiswa bagi pengurus kegiatan. Rekognisi atas prestasi maupun aktivitas non-akademik dipastikan tercatat dalam Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), sebagai bagian dari penguatan portofolio lulusan UGM. (sas)

