Surabaya (prapanca.id) – Gelombang keprihatinan publik menguat setelah tiga peristiwa bunuh diri yang melibatkan pelajar terjadi dalam rentang waktu sepekan di sejumlah daerah di Indonesia. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa mahasiswa dilaporkan mengakhiri hidupnya. Di Demak, seorang siswa sekolah dasar ditemukan meninggal akibat gantung diri. Sementara di Bandung, seorang pelajar diduga bunuh diri setelah mengalami persoalan hubungan pribadi.
Rangkaian peristiwa tersebut menjadi alarm serius bagi masyarakat tentang kompleksitas persoalan kesehatan mental remaja, terutama di tengah derasnya arus interaksi digital. Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Suko Widodo, menilai fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari tekanan psikososial yang semakin rumit di era media sosial.
Menurutnya, remaja saat ini hidup dalam dua ruang yang berjalan bersamaan: ruang fisik dan ruang digital. Tekanan di ruang digital, kata dia, dapat berlangsung tanpa henti dan sering kali luput dari pengawasan orang tua maupun pendidik. Situasi ini membuat remaja rentan mengalami beban emosional yang terakumulasi.
Dari perspektif ilmu komunikasi, Suko mengaitkan fenomena tersebut dengan Teori Kultivasi yang dikemukakan George Gerbner. Teori ini menjelaskan bahwa paparan media secara terus-menerus dapat membentuk persepsi individu tentang realitas sosial. Dalam konteks media sosial, konten yang menampilkan gaya hidup bahagia, relasi ideal, serta popularitas instan berpotensi menjadi standar umum kehidupan bagi remaja.
Ketika realitas pribadi tidak sejalan dengan gambaran ideal tersebut, muncul risiko resonansi emosi yang memperkuat perasaan negatif, seperti rendah diri, kesepian, hingga putus asa. Terlebih lagi, algoritma media sosial cenderung menyajikan konten yang selaras dengan preferensi dan kondisi emosional pengguna, sehingga mempersempit variasi perspektif yang diterima.
Suko menekankan bahwa literasi digital harus dipahami secara komprehensif, tidak sekadar kemampuan teknis menggunakan gawai, tetapi juga mencakup kesadaran emosional dan kemampuan memilah informasi. Sekolah dan keluarga dinilai perlu memiliki mekanisme deteksi dini terhadap perubahan perilaku remaja, termasuk penurunan performa akademik, isolasi sosial, atau ekspresi emosi yang ekstrem di media sosial.
Selain itu, media massa diharapkan menjalankan prinsip kehati-hatian dalam memberitakan kasus bunuh diri dengan menghindari sensasionalisme serta menyertakan informasi layanan konseling atau bantuan psikologis. Upaya kolektif lintas sektor dinilai penting agar remaja tidak hanya terhubung secara daring, tetapi juga merasa didengar dan mendapatkan dukungan nyata dalam menghadapi tekanan hidup. (tas)

