Surabaya (prapanca.id) – Inovasi di bidang peternakan kembali lahir dari mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR). Melalui gagasan teknologi kandang pintar berbasis Internet of Things (IoT), mahasiswa Fakultas Vokasi UNAIR berhasil meraih juara dua nasional dalam ajang World Milk Day 2026 yang diselenggarakan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Prestasi tersebut diraih oleh Dea Vania Natalie melalui esai ilmiah bertajuk SAPI TEDUH, sebuah sistem kanopi cerdas yang dirancang untuk membantu mengatasi persoalan heat stress atau tekanan panas pada sapi perah di Indonesia.
Kompetisi tingkat nasional yang berlangsung pada 11 Mei 2026 itu menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menghadirkan inovasi di sektor peternakan dan ketahanan pangan berkelanjutan. Dalam ajang tersebut, gagasan Dea dinilai memiliki relevansi tinggi terhadap tantangan peternakan modern, khususnya di negara beriklim tropis seperti Indonesia.

Dea menjelaskan bahwa inovasi SAPI TEDUH lahir dari kondisi peternakan sapi perah yang selama ini menghadapi penurunan produktivitas akibat suhu lingkungan yang tinggi. Menurutnya, sapi perah jenis Friesian Holstein termasuk ternak yang sensitif terhadap perubahan suhu dan mudah mengalami stres panas.
Kondisi tersebut dapat berdampak langsung terhadap produksi susu, kesehatan ternak, hingga efisiensi usaha peternakan. Selama ini, berbagai solusi yang diterapkan dinilai masih bersifat parsial dan belum mampu merespons kondisi kandang secara otomatis dan berkelanjutan.
Berangkat dari permasalahan itu, Dea mengembangkan konsep sistem kanopi pintar yang memanfaatkan sensor suhu dan kelembapan untuk memantau kondisi kandang secara real-time. Sistem tersebut kemudian diintegrasikan dengan teknologi otomatisasi berbasis kecerdasan buatan.
“Keunggulan utama dari SAPI TEDUH terletak pada integrasi sistemnya. Teknologi ini tidak hanya berfungsi untuk menurunkan suhu kandang, tetapi juga mampu memantau kondisi ternak dan mengambil keputusan otomatis berdasarkan data lingkungan,” ujar Dea.
Ia menjelaskan bahwa ketika sensor mendeteksi suhu kandang berada di atas batas kenyamanan sapi, sistem akan secara otomatis mengaktifkan misting fan atau kipas embun serta ventilasi pintar untuk membantu menurunkan temperatur kandang.
Teknologi tersebut menggunakan sumber energi tenaga surya sehingga dinilai lebih ramah lingkungan dan efisien dari sisi biaya operasional. Selain itu, desain sistem dibuat modular agar mudah diterapkan pada peternakan rakyat dengan kapasitas lahan dan modal yang terbatas.
Menurut Dea, pendekatan teknologi yang adaptif menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi tantangan sektor peternakan di era perubahan iklim. Ia menilai bahwa inovasi digital tidak harus rumit ataupun hanya dapat digunakan oleh industri besar.
“Teknologi seharusnya dapat diakses dan diterapkan secara realistis oleh peternak rakyat. Karena itu, desain SAPI TEDUH dibuat sederhana, fleksibel, dan mudah dikembangkan sesuai kebutuhan,” katanya.
Dalam proses penyusunan esai ilmiah tersebut, Dea mengaku menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam menyederhanakan konsep teknologi yang cukup kompleks agar tetap aplikatif dan mudah dipahami.
Ia harus melakukan riset mendalam mengenai sistem IoT, kebutuhan peternakan sapi perah, hingga konsep energi terbarukan yang sesuai dengan kondisi lingkungan peternakan di Indonesia.
Selain itu, latihan presentasi dan penguatan argumentasi ilmiah juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi nasional tersebut. Menurutnya, keberhasilan yang diraih tidak lepas dari proses riset yang konsisten dan pemahaman terhadap persoalan nyata di masyarakat.
Melalui capaian tersebut, Dea berharap inovasi SAPI TEDUH dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus menghadirkan solusi berbasis teknologi yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak ragu mengembangkan ide inovatif meski berasal dari persoalan sederhana di sekitar lingkungan mereka.
“Jangan takut mencoba meskipun merasa ide yang dimiliki belum sempurna. Yang penting adalah keberanian untuk memulai riset, memahami masalah yang relevan, dan memastikan solusi yang ditawarkan bisa diterapkan secara nyata,” pungkasnya.
Pengembangan teknologi peternakan berbasis digital seperti SAPI TEDUH dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung peningkatan produktivitas peternakan nasional sekaligus mendorong penerapan sistem usaha peternakan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. (tas)

