
Surabaya (prapanca.id) – Sekolah Alam Petani Muda Nusantara (Sampun) menggelar diskusi tentang ketahanan pangan lintas generasi di Dapoer Oemoem, Surabaya, pada Sabtu, 28 Juni 2025.
Acara ini mengundang berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, pemuda, hingga unsur LPMK, untuk membahas konsep pertanian kota yang terintegrasi dan ramah lingkungan.
Salah satu topik utama yang diangkat adalah potensi budidaya cacing tanah sebagai solusi dalam mengelola limbah organik.
Urban Farming: Solusi Holistik untuk Ketahanan Pangan Kota
Evan Siahaan, founder Sampun, dalam kesempatan tersebut menjelaskan pentingnya konsep urban farming yang holistik dalam menciptakan ketahanan pangan di perkotaan.
“Bincang Ketahanan Pangan ini adalah bagian dari rangkaian diskusi urban farming yang kami gelar untuk mendorong elemen masyarakat agar bersama-sama menciptakan atmosfer pertanian yang lebih terintegrasi,” ujarnya.
Menurut Evan, kota-kota besar seperti Surabaya setiap bulannya menghasilkan ribuan ton sampah organik, yang bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak atau bahkan sebagai sumber protein untuk hewan ternak.
Sampah-sampah seperti limbah pasar dan limbah rumah potong hewan, katanya, memiliki potensi besar yang sayang untuk dibuang begitu saja.
“Kami telah melakukan kajian, dan potensi limbah ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung industri peternakan yang lebih ramah lingkungan,” lanjut Evan.
Budidaya Cacing Tanah: Solusi Ekonomis dan Ramah Lingkungan
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam acara ini adalah pembahasan tentang budidaya cacing tanah. Evan menjelaskan bahwa ternak cacing tanah bisa menjadi solusi yang sangat efisien bagi warga kota.
Dalam skala rumah tangga, hanya dengan 5 kg cacing tanah, setiap individu berpotensi menghasilkan pendapatan tambahan sebesar Rp100 ribu hingga Rp250 ribu per bulan. Selain itu, budidaya cacing juga dapat menyerap limbah organik dari setiap rumah tangga.
“Budidaya cacing tanah sangat mudah dilakukan, bahkan tanpa modal besar dan perawatan yang rumit. Jika dilakukan dengan serius, potensi pendapatannya sangat besar, dan yang terpenting, ini turut membantu mengurangi limbah organik di sekitar kita,” ujar Evan.
Sampun, lanjutnya, juga sedang mengembangkan konsep urban farming yang terintegrasi, di mana budidaya cacing tanah tidak hanya berfokus pada pakan ternak, tetapi juga bekerja sama dengan industri kefarmasian atau kosmetik, yang dapat menggunakan cacing tanah untuk bahan baku produk mereka.
Kolaborasi Industri dan Pertanian Perkotaan
Evan menekankan bahwa konsep urban farming yang mereka kembangkan tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat dalam hal ketahanan pangan dan pendapatan tambahan, tetapi juga untuk lingkungan.
Dengan memadukan pertanian perkotaan dengan kehidupan industri, pusat perkantoran, dan pusat perbelanjaan, mereka berkomitmen untuk menciptakan budaya agraris yang selaras dengan kehidupan urban.
“Urban farming yang kami konsepkan ini akan menimbulkan efek domino yang positif bagi perekonomian dan lingkungan. Kami percaya, dengan kolaborasi yang baik antara sektor pertanian dan industri, kita dapat menciptakan kota yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Evan, menutup penjelasannya.
Salah seorang peserta, J. Pratama, menyatakan bahwa diskusi ini memberikan wawasan baru baginya tentang potensi usaha di bidang pertanian perkotaan.
“Selama ini saya pikir cari kerja itu ya berdagang, jadi pegawai, atau makelar saja. Tapi ternyata beternak cacing tanah bisa menjadi sumber pendapatan juga. Setelah diskusi tadi, saya tertarik untuk mencoba budidaya cacing tanah. Kebetulan saya punya banyak kenalan pemancing dan penghobi burung kicauan. Mereka pasti membutuhkan cacing,” ungkap Pratama.
Pratama juga berencana mengajak pemuda-pemuda di kampungnya, di kawasan Margorejo, untuk belajar tentang budidaya cacing di Sampun. “Menarik karena di sini kita bisa langsung praktik, mengenali kendala dan solusinya. Jadi, resikonya lebih kecil jika nanti kita bikin kandang sendiri,” tambahnya sambil tersenyum.
Sampun melalui konsep urban farming yang holistik, menawarkan solusi bagi ketahanan pangan kota yang berkelanjutan. Dengan memanfaatkan limbah organik dan mengintegrasikan sistem pertanian dengan kehidupan industri, mereka memberikan alternatif yang ramah lingkungan dan ekonomis bagi masyarakat kota.
Budidaya cacing tanah, sebagai salah satu contoh, membuka peluang ekonomi baru bagi warga perkotaan dan dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi limbah organik yang selama ini terabaikan.
Melalui inisiatif ini, Sampun berharap dapat menciptakan kota-kota yang lebih hijau, lebih mandiri dalam hal pangan, dan tentunya lebih sejahtera bagi seluruh masyarakatnya. (anz)
