Surabaya (prapanca.id) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini. Melalui program Gerakan Wajib Belajar 13 Tahun, Surabaya menambahkan satu tahun pra-sekolah sebelum anak masuk Sekolah Dasar (SD). Langkah ini sejalan dengan enam program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Ketua Bunda PAUD Kota Surabaya, Rini Indriyani, menegaskan pentingnya pendidikan pra-sekolah sebagai bekal awal anak. Menurutnya, tambahan satu tahun pra-sekolah dapat membantu anak lebih siap secara mental dan karakter.
“Dulu wajib belajar 12 tahun, sekarang ditambah pra-sekolah. Anak-anak yang sudah terbiasa sekolah di PAUD akan lebih mandiri, tidak takut ditinggal orang tua, dan lebih siap beradaptasi ketika masuk SD,” ujar Bunda Rini, Jumat (19/9/2025).
Pra-Sekolah Bentuk Kemandirian dan Karakter
Bunda Rini mencontohkan, anak yang mengikuti pendidikan PAUD cenderung lebih berani saat memasuki kelas 1 SD. Selain itu, pra-sekolah juga mengajarkan keterampilan sosial, seperti antre, menunggu giliran, hingga berinteraksi dengan teman sebaya.
“Kalau tidak lewat pra-sekolah, anak-anak kadang tidak terbiasa diajari bersosialisasi. Padahal itu bagian penting dari pembentukan karakter,” jelasnya.
Untuk memastikan seluruh anak usia 5–6 tahun mendapat akses pendidikan, Pemkot Surabaya menurunkan tim dari tingkat kota, kecamatan, hingga kelurahan. Mereka melakukan pendataan dan pendekatan langsung kepada orang tua, termasuk mencari solusi bagi keluarga yang menolak atau mengalami kendala biaya.
Sinergi Lintas Perangkat Daerah
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menambahkan bahwa gerakan wajib pra-sekolah ini berjalan berkat sinergi lintas perangkat daerah.
“Mulai dari pendataan, sosialisasi, hingga fasilitasi anak yang belum sekolah, semuanya ditangani bersama. Kalau ada kendala biaya, langsung dicarikan solusi,” tegas Yusuf.
Ia menekankan bahwa tujuan utama program ini adalah membentuk karakter anak sejak dini melalui literasi, numerasi, serta pembiasaan positif. “Anak yang terbiasa mandiri, disiplin, dan percaya diri sejak dini akan lebih siap menempuh jenjang pendidikan berikutnya,” tambahnya.
Apresiasi Akademisi
Dosen PG-PAUD Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Fatiha Khoirotunnisa Elfahmi, mengapresiasi langkah cepat Pemkot Surabaya. Menurutnya, Surabaya lebih progresif dibanding banyak daerah lain dalam mengimplementasikan wajib pra-sekolah.
“Komitmen Surabaya bukan hanya mendorong wajib PAUD, tetapi juga meningkatkan kualitas guru lewat program beasiswa dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Tahun ini sekitar 200 guru PAUD sedang disekolahkan hingga jenjang S1,” ungkap Fatiha.
Ia menilai, kebijakan tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menekankan pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai fondasi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).
“Kalau atensi ini dilakukan terus-menerus, Surabaya bukan hanya maju secara infrastruktur, tapi juga kuat dalam SDM,” pungkasnya. (tas)

