Surabaya (prapanca.id) — Pemerintah Kota Surabaya memperkuat sinergi lintas sektor untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah melalui High Level Meeting (HLM) yang melibatkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), Tim Percepatan dan Perluasan Ekonomi Digital (TP2ED), serta Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
Pertemuan bertema “Sinergi Kebijakan Pengendalian Inflasi, Digitalisasi Transaksi, dan Inklusi Keuangan untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan di Kota Surabaya” tersebut digelar di Lobby Lantai 2 Balai Kota Surabaya, Senin (15/12/2025).
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memimpin langsung jalannya diskusi yang turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur, Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Timur, serta pemangku kepentingan strategis lainnya.
Dalam paparannya, Eri menegaskan bahwa pengendalian inflasi, digitalisasi transaksi, dan peningkatan akses keuangan merupakan satu kesatuan kebijakan yang saling terhubung untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Inflasi harus dijaga melalui digitalisasi yang terintegrasi dengan akses keuangan. Ketika pelaku UMKM mendapatkan permodalan dan distribusi pangan terjaga, pertumbuhan ekonomi akan bergerak secara berkelanjutan,” ujar Eri.
Ia menjelaskan, forum ini menjadi langkah awal penyatuan kebijakan lintas tim yang akan ditindaklanjuti melalui evaluasi output dan outcome secara berkala. Salah satu fokus utama adalah pemetaan neraca komoditas dan indeks kebutuhan pokok untuk memastikan ketersediaan barang di pasar.
Melalui integrasi data tersebut, aparat penegak hukum dapat memastikan distribusi berjalan lancar dan mencegah praktik penimbunan maupun lonjakan harga yang tidak wajar.
Eri juga mengungkapkan bahwa sinergi yang dibangun Pemkot Surabaya mendapat perhatian di tingkat nasional. OJK, kata dia, memberikan apresiasi atas model kolaborasi lintas sektor yang dijalankan di Kota Pahlawan.
“Langkah ini sejalan dengan agenda nasional. Ketika seluruh elemen bergerak bersama, stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi akan tercapai,” tambahnya.
Berdasarkan data terkini, kinerja ekonomi Surabaya menunjukkan tren positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 85,6 persen, nilai investasi Rp40,48 triliun, pertumbuhan ekonomi 5,5 persen, tingkat kemiskinan 3,5 persen, serta Gini Rasio 0,369.
Eri menargetkan pertumbuhan ekonomi Surabaya pada tahun mendatang dapat meningkat hingga di atas 6 persen dengan dukungan validasi data ekonomi, khususnya ekspor-impor, guna mencerminkan potensi riil Surabaya sebagai kota jasa dan gerbang ekonomi Indonesia Timur. (tas)

