Surabaya (prapanca.id) — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat langkah pelestarian warisan budaya melalui kegiatan alih media arsip seniman ludruk legendaris, Cak Kartolo. Upaya tersebut dilakukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya dalam kunjungan ke kediaman Cak Kartolo sebagai bagian dari persiapan pengusulan arsip ke program Memori Kolektif Bangsa (MKB).
Kepala Dispusip Surabaya, Yusuf Masruh, hadir langsung dalam pertemuan yang berlangsung hangat bersama Cak Kartolo dan istrinya, Ning Tini, yang juga dikenal sebagai pelaku seni ludruk. Dalam kesempatan tersebut, Dispusip menggali perjalanan panjang kiprah Cak Kartolo sekaligus melakukan pendokumentasian arsip pribadi sang seniman.
Yusuf menjelaskan, kegiatan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan langkah awal pendataan dan pengarsipan tokoh-tokoh budaya Surabaya. Menurutnya, banyak jejak sejarah seniman daerah yang belum terdokumentasi secara sistematis, padahal memiliki nilai penting bagi sejarah dan pendidikan kebudayaan.
Sebagai bagian dari proses tersebut, Dispusip melakukan alih media arsip pribadi Cak Kartolo yang meliputi dokumen, foto, naskah, serta rekaman pertunjukan ludruk sejak 1958 hingga 2025. Arsip-arsip ini selanjutnya dipersiapkan untuk diusulkan ke Memori Kolektif Bangsa dan diarsipkan melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
“Informasi dan dokumentasi ini akan kami usulkan sebagai bagian dari Memori Kolektif Bangsa 2026. Harapannya, kiprah Cak Kartolo tidak hanya dikenang di Surabaya, tetapi juga diakui sebagai bagian dari sejarah kebudayaan nasional,” ujar Yusuf.
Selain aspek pengarsipan, pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk menggali kisah hidup dan nilai-nilai yang diwariskan Cak Kartolo. Cerita-cerita tersebut direncanakan akan diolah menjadi bahan literasi kebudayaan yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah, perpustakaan, dan komunitas literasi.
Yusuf menambahkan, Cak Kartolo mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya dalam menjaga eksistensi ludruk. Menurut Cak Kartolo, perhatian pemerintah terhadap kesenian tradisional menjadi faktor penting agar ludruk tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Melalui program ini, Pemkot Surabaya berharap dokumentasi budaya dan penguatan literasi mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan lokal serta memperkuat identitas budaya kota secara berkelanjutan. (tas)

