Surabaya (prapanca.id) – Suasana berbeda terasa di Kampus Stikosa-AWS Surabaya baru-baru ini, ketika dua buku karya insan media diluncurkan dalam satu acara. Yang pertama adalah buku kumpulan esai bertajuk “Wong Katrok Merambah Media” karya Sasetya Wilutama, dan yang kedua adalah antologi puisi “Tuhan, Plis Deh…” karya jurnalis senior Imung Mulyanto.
Peluncuran ini menjadi istimewa karena buku “Wong Katrok Merambah Media” sekaligus menjadi tugas akhir pengganti skripsi bagi Sasetya Wilutama dalam meraih gelar sarjana di Stikosa-AWS.
Acara peluncuran ditandai dengan penyerahan buku kepada Wakil Ketua Stikosa-AWS, Yunita Indinabila, S.Kom, M.MedKom, dilanjutkan sesi diskusi yang menghadirkan tiga narasumber: Sasetya Wilutama, Imung Mulyanto, dan Doddy Hernanto (Mr D), seniman digital pencetus aliran seni Codeisme.
Perjalanan Jurnalis Lintas Era
Buku “Wong Katrok Merambah Media” merangkum perjalanan panjang Sasetya Wilutama di dunia media, mulai dari media cetak, elektronik, hingga digital. Ia pernah menjadi redaktur majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat, hingga broadcaster di SCTV, Arek TV, Bojonegoro TV, dan turut membidani kelahiran Matrix TV Digital.
“Awalnya judul buku ini adalah ‘Wong Katrok Masuk Tipi’ karena fokus pada pengalaman saya di SCTV. Tapi karena dunia media begitu cepat berubah, saya membaginya menjadi tiga fase: cetak, elektronik, dan digital,” ujar Sasetya.

Buku ini merupakan bentuk realisasi dari obsesinya sejak lama untuk menerbitkan karya pribadi. Dorongan kuat juga datang dari sahabat-sahabatnya seperti Imung Mulyanto, yang menjadi editor buku, serta penulis produktif Adriono dan Amang Mawardi.
Menariknya, peluncuran buku ini tidak hanya hadir dalam versi cetak. Sasetya juga memproduksi kaos, bookmark, dan bahkan sebuah lagu bertema Wong Katrok. Melalui teknologi QR Art—hasil kolaborasi dengan seniman digital Mr D—gambar di kaos atau bookmark bisa dipindai dan akan menampilkan e-book penuh dari isi buku tersebut. Lagu yang mengiringi peluncuran diciptakan oleh Ir. Hendra Budi Rachman, rekan Sasetya saat di SCTV.
Imung Mulyanto: Menulis Puisi dari Hati Nurani
Dalam sesi kedua, Imung Mulyanto memperkenalkan antologi puisi solo perdananya, “Tuhan… Plis Deh”, yang terdiri dari 50 puisi dan dibagi dalam empat bagian: Cinta Semesta, Cinta Pertiwi, Cinta Sesama, dan Cinta Tuhan.
Sebagai jurnalis senior yang telah mengabdi lebih dari 30 tahun di berbagai media seperti Surabaya Post, Jatim Newsroom, dan Arek TV, Imung menyebut proses menulis puisi sangat berbeda dengan jurnalistik.
“Saat menulis puisi, saya benar-benar merasakan kemerdekaan berekspresi. Tidak ada tekanan deadline atau kepentingan lain. Hanya amanah rasa yang mendorong,” ucapnya penuh makna.
Dari Skenario ke Sajak
Sebelum dikenal sebagai jurnalis, Imung mengawali karier sebagai penulis skenario film dan TV pendidikan di Pustekkom Dikbud. Ia juga bagian dari tim kreatif Film Seri ACI (Aku Cinta Indonesia)—salah satu seri legendaris era 80-an bersama mendiang Arswendo Atmowiloto.
Peluncuran buku “Wong Katrok Merambah Media” dan “Tuhan, Plis Deh…” bukan sekadar perayaan karya tulis. Ini adalah refleksi perjalanan, perjuangan, dan dedikasi dua insan media yang konsisten berkarya lintas platform dan generasi. Dalam dunia jurnalistik dan sastra yang terus berkembang, acara ini menjadi bukti bahwa menulis adalah bentuk perlawanan terhadap lupa—dan bahwa usia bukanlah batas dalam berkarya. (anz)

