Surabaya (prapanca.id) – Memilih sekolah untuk anak masih kerap dipandang sebagai ajang berburu institusi terbaik dengan label unggulan atau standar internasional. Tak sedikit orang tua yang menjadikan reputasi sekolah dan nilai akademik sebagai tolok ukur utama.
Namun dalam perspektif psikologi pendidikan, pendekatan tersebut dinilai belum tentu tepat jika tidak mempertimbangkan karakter anak secara mendalam. Para ahli justru mendorong penggunaan konsep goodness of fit sebagai dasar dalam menentukan pilihan sekolah.
Konsep goodness of fit menekankan pentingnya kesesuaian antara karakter anak terutama temperamen dengan lingkungan belajar yang tersedia. Artinya, sekolah terbaik bukanlah yang paling populer, melainkan yang paling sesuai dengan kebutuhan anak.
Dalam kajian psikologi perkembangan, kecocokan ini berperan besar dalam mendukung tumbuh kembang anak. Anak yang berada di lingkungan yang selaras dengan kepribadiannya cenderung lebih mudah beradaptasi, baik secara akademik maupun sosial.
Sebaliknya, ketidaksesuaian antara karakter anak dan sistem sekolah dapat memicu stres, kesulitan adaptasi, hingga gangguan perilaku.
Berbagai studi menunjukkan bahwa siswa yang berada di lingkungan belajar yang sesuai dengan karakter mereka memiliki tingkat penyesuaian diri yang lebih baik. Kesesuaian antara temperamen dan tuntutan sekolah terbukti berkontribusi terhadap hasil belajar yang lebih optimal serta hubungan sosial yang lebih sehat.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa proses memilih sekolah seharusnya dimulai dari memahami anak, bukan sekadar melihat peringkat institusi.
Pendekatan goodness of fit juga mengubah cara orang tua melakukan survei sekolah. Tidak cukup hanya melihat fasilitas, kurikulum, atau brosur promosi, tetapi juga perlu memahami metode pembelajaran yang diterapkan.
Misalnya, anak dengan gaya belajar aktif dan kinestetik akan lebih berkembang di lingkungan yang memberi ruang eksplorasi, seperti pembelajaran berbasis proyek atau aktivitas luar ruang. Sebaliknya, anak yang cenderung reflektif mungkin lebih cocok dengan sistem belajar yang terstruktur dan kondusif.
Konsep ini menegaskan bahwa tidak ada satu model sekolah yang ideal untuk semua anak. Setiap individu memiliki kebutuhan psikologis yang berbeda, sehingga memerlukan lingkungan belajar yang berbeda pula.
Perkembangan anak merupakan hasil interaksi antara faktor internal dan lingkungan. Karena itu, keputusan memilih sekolah perlu mempertimbangkan kedua aspek tersebut secara seimbang.
Dalam praktiknya, orang tua memiliki peran penting untuk mengenali karakter, minat, dan kebutuhan anak sejak dini. Dengan pemahaman tersebut, proses memilih sekolah dapat dilakukan secara lebih objektif dan tepat sasaran.
Pendekatan ini diharapkan mampu menggeser pola pikir masyarakat dari sekadar mengejar label “sekolah terbaik” menjadi mencari “sekolah yang paling sesuai”. Dengan begitu, anak dapat berkembang secara optimal, tidak hanya dalam prestasi akademik, tetapi juga kesehatan mental dan kemampuan sosial. (ant)

