Surabaya (prapanca.id) — Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatatkan capaian signifikan dalam gelaran Misi Dagang dan Investasi bertajuk East Java Trade and Investment Forum 2026 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia. Forum tersebut berhasil membukukan total transaksi lebih dari Rp15,25 triliun, menjadikannya sebagai pencapaian tertinggi sepanjang penyelenggaraan misi dagang Pemprov Jatim.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memimpin langsung kegiatan yang melibatkan sekitar 105 pelaku usaha dari berbagai sektor strategis. Kegiatan ini menjadi misi dagang pertama yang digelar di luar negeri pada tahun 2026 dan menunjukkan eskalasi hubungan ekonomi antara Jawa Timur dan Malaysia.
Secara rinci, nilai transaksi tersebut terdiri dari penjualan sebesar Rp14,58 triliun, pembelian sekitar Rp19,55 miliar, serta komitmen investasi mencapai Rp650 miliar. Angka ini mencerminkan tidak hanya peningkatan aktivitas perdagangan, tetapi juga penguatan investasi jangka panjang yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi regional.
Komoditas yang diperdagangkan dalam forum ini mencakup sektor unggulan seperti tembaga, produk olahan pangan, tembakau, kopi, teh, rempah-rempah, hingga bahan kimia. Ragam komoditas ini menunjukkan struktur ekonomi Jawa Timur yang semakin terdiversifikasi dan mampu bersaing di pasar internasional.
Selain transaksi perdagangan, forum ini juga menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis dalam bentuk nota kesepahaman (MoU) dan Letter of Intent (LoI). Salah satu kerja sama yang menonjol adalah pengembangan kawasan terintegrasi layanan karantina, logistik, dan perdagangan di Jatim Hub kawasan Puspa Agro. Kolaborasi ini dinilai sebagai langkah konkret dalam memperkuat rantai pasok dan efisiensi distribusi perdagangan lintas negara.
Khofifah menilai capaian tersebut sebagai indikator kuatnya posisi Jawa Timur dalam peta ekonomi nasional dan regional. Ia menekankan bahwa hubungan historis dan kedekatan budaya antara Indonesia dan Malaysia menjadi modal penting dalam membangun kerja sama ekonomi yang berkelanjutan.
Dari sisi potensi pasar, Jawa Timur memiliki keunggulan demografis dan geografis yang signifikan. Dengan jumlah penduduk lebih dari 42 juta jiwa serta peran sebagai pemasok utama logistik ke wilayah Indonesia Timur, provinsi ini memiliki daya tarik tinggi bagi investor dan mitra dagang internasional.
Jika dibandingkan dengan misi dagang sebelumnya pada 2022 yang masih berfokus pada penjajakan, pelaksanaan tahun 2026 menunjukkan pergeseran ke tahap implementasi konkret. Hal ini tercermin dari tingginya nilai transaksi serta banyaknya kesepakatan yang siap ditindaklanjuti.
Data perdagangan tahun 2025 juga memperkuat tren positif tersebut. Neraca perdagangan antara Jawa Timur dan Malaysia mencatatkan surplus sebesar USD967,06 juta, dengan nilai ekspor mencapai USD1,53 miliar dan impor sebesar USD572,37 juta. Struktur perdagangan ini menunjukkan dominasi ekspor produk manufaktur dan olahan dari Jawa Timur, seperti tepung, produk tembakau, serta barang berbasis kayu.
Dalam kerangka yang lebih luas, Khofifah mengaitkan capaian ini dengan visi “Jatim Gerbang Baru Nusantara” yang menempatkan Jawa Timur sebagai pusat konektivitas ekonomi nasional. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pemerataan pembangunan dan penguatan sumber daya manusia.
Partisipasi aktif pelaku usaha, UMKM, koperasi, serta industri dinilai menjadi faktor kunci keberhasilan misi dagang ini. Sinergi antar sektor tersebut diharapkan mampu memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di kancah global.
Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Raden Dato’ Mohammad Iman Hascarya Kusumo, menilai forum ini sebagai platform strategis dalam mempererat hubungan ekonomi bilateral. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pelaku usaha kedua negara perlu terus diperkuat agar menghasilkan dampak nyata dalam jangka panjang.
Dengan capaian transaksi yang melampaui Rp15 triliun, misi dagang ini tidak hanya menjadi simbol keberhasilan diplomasi ekonomi daerah, tetapi juga menegaskan peran Jawa Timur sebagai motor penggerak perdagangan dan investasi Indonesia di tingkat regional. (tas)

