Surabaya (prapanca.id) – Banyak percakapan sejatinya tidak dimulai dengan niat buruk. Kita hanya ingin berbagi cerita tentang suasana kantor yang berbeda, sepupu yang tak kunjung datang saat buka bersama, atau teman lama yang berubah sikap.
Namun perlahan, obrolan yang awalnya membahas peristiwa bisa bergeser menjadi pembicaraan tentang sosoknya. Dari apa yang terjadi, menjadi siapa yang salah.
Situasi seperti ini kerap terjadi tanpa disadari di meja makan, grup chat keluarga, hingga sela menunggu azan magrib. Tidak ada niat menjatuhkan, tetapi kata-kata pelan-pelan menggiring percakapan ke arah penilaian.
Dalam tradisi Islam, lisan kerap disebut sebagai salah satu hal paling sulit dikendalikan. Dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Hujurat ayat 11–12, umat diingatkan untuk tidak saling mengolok, berprasangka, dan membicarakan keburukan orang lain.
Pesan tersebut bukan sekadar aturan moral. Ia juga berbicara tentang menjaga relasi sosial dan kejernihan hati. Kata-kata yang terucap sering kali bertahan lebih lama di dalam pikiran dibandingkan rasa lapar yang hanya sementara.
Karena itu, menjaga lisan di bulan Ramadhan sama pentingnya dengan menahan makan dan minum. Keduanya melatih pengendalian diri pada aspek yang tidak kasatmata yakni hati dan pikiran.
Sebagai makhluk sosial, manusia diciptakan untuk terhubung. Salah satu bentuk koneksi itu muncul melalui percakapan tentang orang lain—yang dalam keseharian sering disebut gosip.
Dilansir dari Time, dari sudut pandang psikologi, gosip bukan semata perilaku negatif yang disengaja. Ia merupakan bagian alami dari komunikasi sosial yang bertujuan membangun kedekatan dan rasa memiliki dalam kelompok.
Ketika membicarakan orang yang tidak hadir, seseorang sebenarnya sedang mengukur norma sosial, memahami dinamika kelompok, serta menilai siapa yang bisa dipercaya. Dalam perspektif evolusioner, kemampuan berdiskusi tentang orang lain membantu manusia bertahan hidup dalam komunitas besar.
Penelitian pada 1993 menunjukkan bahwa lebih dari separuh percakapan sehari-hari berfokus pada informasi sosial tentang orang lain. Artinya, membicarakan orang lain memang bagian umum dari komunikasi manusia.
Namun, seperti dijelaskan dalam Psychology Today, efek menyenangkan dari bergosip hanya bersifat sementara. Setelahnya, kerap muncul rasa bersalah, cemas, atau khawatir tentang bagaimana diri dipersepsikan.
Ketika percakapan berubah menjadi spekulasi dan penilaian, pikiran perlahan terbiasa mencari kekurangan orang lain. Pola ini dapat memengaruhi cara seseorang memandang dunia bahkan memengaruhi cara ia memandang dirinya sendiri.
Di titik inilah menjaga lisan bukan lagi sekadar etika sosial, melainkan bagian dari menjaga kesehatan mental.
Setiap kali membicarakan kekurangan orang lain, pikiran dilatih untuk fokus pada kekurangan. Setiap kali membandingkan hidup orang lain, batin ikut dipenuhi perbandingan itu.
Tanpa sadar, kebiasaan bergunjing membentuk pola pikir yang dipenuhi prasangka dan asumsi. Pola ini tidak berhenti di luar diri, melainkan menetap dalam kepala dan membentuk suasana hati.
Sebaliknya, ketika lisan lebih terjaga, pikiran cenderung lebih jernih. Pikiran yang jernih memudahkan hati merasa tenang. Itulah mengapa pengendalian lisan memiliki dimensi psikologis yang mendalam.
Strategi Mengurangi Kebiasaan Bergunjing
Menyadari dorongan untuk membicarakan orang lain adalah langkah awal. Sejumlah sumber seperti Self dan Yoga Journal menyarankan beberapa strategi berikut:
1. Berhenti Sejenak
Saat obrolan mulai bergeser dari fakta ke asumsi, beri jeda. Tarik napas dan tanyakan pada diri sendiri: apakah ini fakta atau sekadar dugaan?
Latihan sederhana ini membantu memisahkan realitas dari spekulasi, sekaligus mencegah percakapan negatif berlanjut.
2. Alihkan Topik Pembicaraan
Jika suasana mulai mengarah ke gosip, alihkan secara lembut. Ajak membahas topik netral seperti rencana akhir pekan, pengalaman positif, atau hal yang sedang dipelajari.
Mengubah arah percakapan menunjukkan kontrol sosial tanpa harus menggurui.
Selain itu, penting juga menyadari ruang percakapan yang dikonsumsi. Mengurangi paparan grup atau forum yang sarat komentar negatif dapat membantu menjaga suasana batin tetap stabil.
3. Memilih Diam Secara Sadar
Diam bukan tanda kelemahan. Ia bisa menjadi bentuk kedewasaan komunikasi.
Sebelum berbicara, refleksikan apakah ucapan tersebut membangun atau hanya meluapkan emosi sesaat. Memberi jeda antara dorongan dan ucapan melatih kesadaran batin.
Bulan Ramadhan sering mempertemukan banyak orang dalam ruang percakapan: saat buka bersama, selepas tarawih, atau bahkan saat menggulir media sosial.
Di ruang-ruang itu, kata-kata mengalir begitu saja kadang ringan, kadang tajam.
Menahan diri untuk tidak menambahkan komentar mungkin tampak sederhana. Namun justru di situlah latihan batin berlangsung.
Menjaga lisan bukan hanya tentang tidak melukai orang lain. Ia juga tentang menjaga hati agar tidak dipenuhi penilaian, perbandingan, dan cerita yang sebenarnya tidak perlu dibawa pulang.
Pada akhirnya, pengendalian kata adalah cara menjaga kejernihan pikiran. Dan mungkin, itulah salah satu makna terdalam dari puasa: bukan sekadar menahan lapar, melainkan merawat hati agar tetap bersih setelah Ramadhan berlalu. (ant)

