Surabaya (prapanca.id) — Peringatan Hari Kartini tidak lagi sekadar identik dengan simbol budaya seperti kebaya, tetapi menjadi ruang refleksi atas dinamika perjuangan perempuan di era modern. Perspektif ini disampaikan oleh Guru Besar Sosiologi Gender Universitas Airlangga, Emy Susanti, yang menyoroti pentingnya redefinisi makna kesetaraan perempuan di tengah perubahan sosial dan ekonomi global.
Menurut Prof. Emy, nilai-nilai yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini tetap relevan hingga kini. Ia menekankan bahwa perjuangan Kartini berakar pada tiga isu mendasar, yakni akses pendidikan, pengentasan kemiskinan, serta kesehatan reproduksi perempuan. Ketiga aspek tersebut dinilai masih menjadi tantangan struktural yang dihadapi perempuan Indonesia hingga saat ini.
Dalam konteks kekinian, Prof. Emy menilai bahwa indikator keberhasilan kesetaraan gender tidak cukup diukur dari peningkatan pendidikan formal semata. Ia menekankan bahwa esensi keberdayaan perempuan terletak pada kemampuan untuk menentukan arah hidup secara mandiri tanpa tekanan sosial maupun struktural.
Ia menjelaskan bahwa perempuan yang berpendidikan tinggi belum tentu sepenuhnya berdaya apabila masih berada dalam kondisi yang membatasi pilihan hidupnya. Otonomi, dalam hal ini, menjadi parameter utama yang mencerminkan kebebasan perempuan dalam menentukan keputusan personal, mulai dari pendidikan, karier, hingga kehidupan keluarga.
Lebih jauh, Prof. Emy juga menyoroti fenomena beban ganda yang masih melekat kuat pada perempuan. Dalam banyak kasus, perempuan tidak hanya menjalankan peran domestik, tetapi juga turut berkontribusi sebagai pencari nafkah, terutama di tengah tekanan ekonomi. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai multi burden, di mana perempuan harus menyeimbangkan berbagai tanggung jawab sekaligus.
Ia menilai bahwa struktur sosial yang masih menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama urusan domestik menjadi salah satu faktor utama munculnya beban berlapis tersebut. Meski demikian, perempuan dinilai memiliki daya tahan sosial yang kuat dalam menghadapi kondisi tersebut.
Salah satu kekuatan utama perempuan, lanjutnya, terletak pada solidaritas dan jaringan sosial yang terbentuk secara alami di lingkungan masyarakat. Praktik saling mendukung, berbagi peran, hingga kolaborasi dalam pengasuhan anak menjadi bentuk adaptasi sosial yang efektif dalam menghadapi tekanan ekonomi maupun sosial.
Di sisi lain, Prof. Emy menyoroti bahwa program pengarusutamaan gender yang telah diinisiasi pemerintah masih menghadapi berbagai tantangan dalam implementasinya. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran masyarakat sipil, khususnya perempuan, untuk saling memperkuat dan membangun jaringan yang inklusif.
Ia juga mengajak generasi muda untuk memaknai Hari Kartini sebagai momentum memperkuat kolaborasi, bukan kompetisi. Semangat kolektif dinilai menjadi kunci dalam menghadapi kompleksitas tantangan perempuan di era modern, termasuk dalam menghadapi perubahan sosial yang semakin cepat.
Dengan demikian, peringatan Hari Kartini 2026 menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan tidak berhenti pada akses, melainkan berlanjut pada upaya mewujudkan kemandirian, keseimbangan peran, serta solidaritas sosial yang berkelanjutan. (tas)

