Surabaya (prapanca.id) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR). Rohmatul Fardani Maulidia, mahasiswi Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2023, berhasil meraih Juara 2 kategori Seni Tunggal Dewasa Putri dalam ajang Indonesia Pencak Silat Pakubumi Open 14th Championship 2026.
Capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa generasi muda tidak hanya mampu bersaing di tingkat internasional, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga eksistensi budaya tradisional Indonesia. Mahasiswi yang akrab disapa Lily itu menempatkan pencak silat bukan sekadar olahraga, melainkan medium pembentukan karakter dan pelestarian warisan budaya.
Lily menekuni pencak silat dengan pendekatan yang konsisten dan terstruktur. Ia menjalani latihan rutin bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pagar Nusa UNAIR sebanyak tiga kali dalam seminggu. Latihan tersebut difokuskan pada penguatan teknik dasar seni tunggal, mulai dari ketepatan gerakan, keseimbangan, hingga ekspresi yang menjadi bagian penting dalam penilaian.
Menjelang kompetisi, intensitas latihan meningkat melalui sesi gabungan bersama Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) UNAIR. Dalam waktu persiapan yang relatif singkat, Lily berupaya memaksimalkan setiap sesi latihan, termasuk melakukan evaluasi mandiri untuk memperbaiki kekurangan dalam performa.
Keberhasilan ini tidak diraih tanpa tantangan. Sebagai mahasiswa aktif, Lily harus mampu menyeimbangkan antara tuntutan akademik dan persiapan kompetisi. Ia menyusun jadwal harian secara disiplin untuk memastikan seluruh tanggung jawab dapat dijalankan secara optimal.
Menurutnya, pencak silat justru memberikan kontribusi positif terhadap kehidupan akademiknya. Latihan yang dijalani secara konsisten membantu meningkatkan fokus, ketahanan mental, serta kedisiplinan dalam menghadapi berbagai tekanan, baik di arena pertandingan maupun di ruang kuliah.
Lebih jauh, prestasi ini menjadi refleksi atas proses panjang yang dilalui dengan komitmen tinggi. Lily memandang bahwa hasil yang diraih merupakan akumulasi dari latihan, evaluasi, serta ketekunan dalam menjalani setiap tahap persiapan.
Ke depan, ia berkomitmen untuk terus mengembangkan kemampuan, baik dalam bidang olahraga maupun akademik. Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak ragu mengejar potensi diri, termasuk dalam bidang yang berkaitan dengan budaya tradisional.
Prestasi yang diraih Lily mempertegas bahwa pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia tetap relevan dan memiliki daya saing di kancah global. Di tengah arus modernisasi, kehadiran generasi muda yang berkomitmen menjaga budaya menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan identitas bangsa.
Keberhasilan ini sekaligus memperkuat posisi UNAIR sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga aktif mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa di berbagai bidang, termasuk pelestarian budaya nasional. (tas)

