Surabaya (prapanca.id) – Fenomena pseudohistory atau sejarah semu yang marak beredar di masyarakat berhasil diangkat oleh dua mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) dalam sebuah karya esai kritis. Atas gagasannya, Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin dan Kesya Azka Najhan meraih Juara II dalam Lomba Esai Sanskerta yang digelar Universitas Sebelas Maret (UNS), Minggu (12/10).
Kompetisi bertema “Sejarah dan Kebudayaan” itu mendorong mahasiswa untuk mengkaji fenomena historis secara ilmiah. Dalam esainya, tim Unair menyoroti merebaknya pseudohistory di ruang publik Indonesia pasca Reformasi 1998.
“Kami menemukan pola bahwa pseudohistory mulai banyak beredar setelah reformasi. Di satu sisi, keterbukaan informasi memberi ruang bagi masyarakat untuk berdiskusi, tapi di sisi lain juga membuka peluang munculnya klaim sejarah yang tidak benar,” jelas Irsyad.
Menurutnya, kebebasan berekspresi yang terbuka pasca-Reformasi sering disalahgunakan oleh pihak-pihak yang menyebarkan narasi sejarah keliru tanpa dasar akademik yang kuat.
Sebagai solusi, mahasiswa tersebut menawarkan penguatan komunikasi antara sejarawan akademik dan masyarakat luas. Irsyad menekankan bahwa menjamurnya pseudohistory turut dipicu oleh lemahnya jembatan antara dunia akademik dan publik.
“Sejarawan tidak boleh hanya berkutat di ruang akademik. Mereka harus menjadi garda terdepan penjaga kebenaran sejarah bangsa. Ketika ada isu yang menyesatkan, sejarawan perlu hadir untuk memberikan penjelasan yang berbasis data dan riset,” tegasnya.
Ia memaparkan bahwa inisiatif seperti kanal edukasi sejarah di media sosial dapat menjadi model komunikasi publik yang efektif. Langkah semacam itu dinilai mampu menyajikan sejarah dengan cara menarik tanpa mengorbankan substansi dan kebenaran akademik.
“Kanal edukasi sejarah memberi contoh bagaimana sejarah bisa disampaikan dengan cara yang menarik tanpa kehilangan substansi akademik. Pola komunikasi seperti itu yang kami jadikan inspirasi,” imbuhnya.
Irsyad berharap pencapaian ini dapat mendorong kolaborasi lebih erat antara akademisi dan masyarakat dalam memperkuat literasi sejarah nasional. Ia juga berharap agar masyarakat semakin kritis dalam menyikapi setiap informasi sejarah yang beredar, dan mahasiswa Unair terus aktif menyuarakan nilai-nilai kebenaran sejarah. (agu)

