Pasuruan (prapanca.id) – Mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya melaksanakan kegiatan pembelajaran kreatif bagi siswa SMP Negeri 1 Purwosari. Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari dan menyasar siswa kelas VII hingga IX melalui pendekatan belajar sambil bermain.
Program pembelajaran ini merupakan bagian dari program kerja mahasiswa PPL BKI angkatan 2022 dengan memanfaatkan media Ular Tangga Konseling. Media tersebut dikembangkan dari permainan ular tangga klasik yang dimodifikasi dengan muatan bimbingan dan konseling. Dalam permainan ini, siswa diajak berinteraksi melalui papan permainan, dadu, serta sejumlah kotak berisi instruksi dan kartu pertanyaan yang berkaitan dengan pengenalan serta pengelolaan emosi.
Materi yang disampaikan meliputi pemahaman tentang pengertian emosi, jenis-jenis emosi yang sering dialami remaja, hingga cara mengelola perasaan seperti marah dan kecewa. Penyampaian materi dikemas secara interaktif agar mudah dipahami dan tidak menimbulkan kejenuhan selama proses pembelajaran berlangsung.
Pelaksanaan kegiatan lebih difokuskan kepada siswa kelas VII yang sedang berada pada fase transisi dari sekolah dasar menuju sekolah menengah pertama. Pada tahap perkembangan ini, siswa dinilai rentan mengalami perubahan dan ketidakstabilan emosi. Melalui pendekatan permainan edukatif, mahasiswa PPL BKI berharap siswa mampu mengenali emosi diri, mengembangkan kemampuan pengendalian emosi, serta meningkatkan keterampilan bekerja sama dan pengambilan keputusan.
Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satu siswa kelas VII, Tsania, menyampaikan bahwa metode pembelajaran tersebut terasa lebih menyenangkan dibandingkan pembelajaran konvensional. Menurutnya, kegiatan belajar sambil bermain membuat siswa lebih bersemangat dan aktif berinteraksi dengan teman satu kelompok.
Hal senada juga disampaikan oleh Silfi, siswa kelas VII lainnya, yang menilai permainan tersebut mampu menciptakan suasana belajar yang tidak membosankan. Dalam pelaksanaannya, setiap kelas dibagi menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok bergiliran melempar dadu, menggerakkan pion sesuai angka yang diperoleh, serta menjalankan instruksi yang tertera pada kotak permainan, termasuk konsekuensi tertentu sesuai aturan permainan.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga pemahaman dasar mengenai kesehatan mental dan emosi yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran berbasis permainan ini menunjukkan bahwa edukasi bimbingan dan konseling dapat disampaikan secara kreatif, interaktif, serta lebih mudah diterima oleh peserta didik di tingkat sekolah menengah pertama. (tia)

