Surabaya (prapanca.id) – Medan berat dan akses yang terbatas tidak menghalangi semangat mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) untuk membantu masyarakat terdampak bencana alam.
Tiga mahasiswa Teknik Elektro FTMM UNAIR terlibat langsung dalam upaya pemulihan akses listrik dan jaringan komunikasi di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, yang sebelumnya dilanda banjir bandang dan tanah longsor.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Ardhiansyah Farhan Hernanda, Afrizal Hasbillah Akbar, dan Reza Arifin Sori Harahap. Mereka tergabung dalam Tim Tanggap Darurat Bencana UNAIR dan berfokus pada pemasangan infrastruktur energi dan komunikasi guna membantu warga kembali beraktivitas secara normal.
Pulihkan Listrik dan Jaringan Komunikasi
Afrizal Hasbillah Akbar menjelaskan bahwa timnya berupaya mengembalikan akses dasar masyarakat melalui pemasangan panel surya dan perangkat internet satelit. Upaya ini dilakukan sebagai solusi cepat di wilayah yang infrastruktur konvensionalnya rusak akibat bencana.
Dalam pelaksanaannya, tim mahasiswa FTMM tidak bekerja sendiri. Mereka didampingi dosen pembimbing, antara lain Yoga Uta Nugraha dan Rizki Putra Prastio, yang memastikan instalasi teknologi berjalan aman dan sesuai kebutuhan lapangan. Tercatat, tim berhasil memasang panel surya serta tiga unit perangkat Starlink yang kini dapat dimanfaatkan warga untuk mengakses jaringan internet.
Keterlibatan mahasiswa dalam misi kemanusiaan ini berawal dari ajakan dosen. Tanpa banyak pertimbangan, ketiganya menyatakan kesediaan untuk terjun langsung ke lokasi terdampak.
Tantangan Medan Terjal
Proses distribusi dan pemasangan perangkat tidak berjalan mudah. Reza Arifin Sori Harahap mengungkapkan bahwa medan terjal dan jalur yang rusak menjadi tantangan utama. Mobilisasi peralatan dilakukan dengan truk yang harus menyeberangi sungai dan melintasi jembatan darurat, bahkan sempat mengalami kendala akibat beban muatan yang berat.
Meski dihadapkan pada risiko dan keterbatasan fasilitas, kondisi tersebut tidak menyurutkan tekad tim untuk menyelesaikan tugas kemanusiaan yang diemban.
Pengalaman Baru di Wilayah Bencana
Bagi ketiga mahasiswa, kegiatan pengabdian masyarakat bukanlah hal baru. Sebelumnya, mereka pernah terlibat dalam program serupa di sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Madiun dan Madura. Namun, menghadapi situasi pascabencana berskala besar di Sumatra Barat memberikan pengalaman berbeda.
Farhan mengakui bahwa awalnya mereka memperkirakan kegiatan ini tidak jauh berbeda dari pengabdian masyarakat pada umumnya. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa misi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana menuntut kesiapan lebih, baik dari sisi waktu, fisik, maupun mental.
Siap Secara Fisik dan Moral
Selain keahlian teknis, Farhan menambahkan bahwa pengabdian ini menuntut kesiapan moral dan empati terhadap masyarakat terdampak. Prinsip “excellence with morality” yang diusung UNAIR menjadi landasan mahasiswa dalam menjalankan peran mereka di tengah warga yang sedang berupaya bangkit dari bencana.
Aksi mahasiswa FTMM UNAIR ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau serta SDG terkait penguatan infrastruktur dan inovasi teknologi. Melalui kontribusi nyata tersebut, mahasiswa UNAIR menunjukkan peran strategis dunia akademik dalam membantu pemulihan masyarakat dan memastikan akses terhadap energi serta informasi dapat kembali dinikmati warga Malalak. (anz)

