Surabaya (prapanca.id) – Kenaikan harga plastik yang terjadi secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga membuka peluang transformasi menuju sistem yang lebih ramah lingkungan. Kondisi ini dipicu oleh konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada terganggunya distribusi minyak serta bahan baku petrokimia, terutama akibat penutupan Selat Hormuz.
Dosen Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Dr. Rizkiy Amaliyah Barakwan, menjelaskan bahwa lonjakan harga plastik merupakan konsekuensi dari ketergantungan global terhadap bahan baku berbasis fosil. Namun, dari perspektif lingkungan, situasi ini justru dapat menjadi momentum penting untuk mendorong perubahan pola produksi dan konsumsi.
Menurut Rizkiy, penggunaan kemasan ramah lingkungan memiliki sejumlah keunggulan, seperti tingkat biodegradabilitas yang tinggi serta kemampuan terurai dalam waktu relatif singkat. Selain itu, alternatif kemasan ini dinilai mampu menekan jejak karbon sekaligus mendukung penguatan ekonomi sirkular, termasuk membuka peluang bagi sektor lokal seperti petani daun pisang dan produsen kertas daur ulang.
Ia menilai bahwa fenomena ini berpotensi menjadi titik awal perubahan sistem yang lebih luas, terutama jika diiringi dengan peningkatan kesadaran kolektif masyarakat. Tren di media sosial yang menunjukkan pergeseran UMKM ke penggunaan kemasan ramah lingkungan juga menjadi indikasi adanya perubahan preferensi pasar.
Dalam konteks ekonomi, perubahan perilaku konsumen dinilai memiliki peran penting dalam mendorong produsen beradaptasi. Permintaan terhadap produk yang lebih berkelanjutan dapat memicu inovasi kemasan berbasis bahan lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap material impor berbasis fosil.
Meski demikian, Rizkiy mengingatkan bahwa peluang ini tidak akan optimal tanpa dukungan sistem yang memadai. Standarisasi terkait higienitas dan keamanan pangan menjadi aspek krusial, terutama dalam penggunaan bahan alternatif. Selain itu, diperlukan intervensi kebijakan pemerintah berupa insentif bagi pelaku usaha yang beralih ke kemasan ramah lingkungan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa fenomena ini juga memiliki relevansi dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek ekonomi, kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi bertanggung jawab, serta perlindungan ekosistem darat dan laut.
Rizkiy menekankan pentingnya pendekatan life cycle thinking dalam implementasi solusi ramah lingkungan. Artinya, setiap inovasi tidak hanya berfokus pada penggantian bahan, tetapi juga mempertimbangkan dampak keseluruhan dari proses produksi hingga pengelolaan limbah.
Sebagai langkah konkret, masyarakat didorong untuk mulai mengurangi penggunaan plastik, memanfaatkan kembali barang yang ada, serta beralih ke alternatif yang lebih berkelanjutan. Sementara itu, pelaku usaha dianjurkan untuk mengembangkan sistem tanpa kemasan, seperti program isi ulang atau pemberian insentif bagi konsumen yang membawa wadah sendiri.
Dengan kombinasi antara kesadaran masyarakat, inovasi pelaku usaha, dan dukungan kebijakan, lonjakan harga plastik tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga peluang strategis untuk mempercepat transisi menuju ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan. (tas)

