Surabaya (prapanca.id) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya semakin mengintensifkan upaya mitigasi bencana dengan menempatkan kesadaran individu sebagai garda terdepan perlindungan Kota Pahlawan. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemkot menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya menjadi beban pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh warga.
Kepala BPBD Surabaya, Irvan Widyanto, menyatakan bahwa setiap warga wajib memahami langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi potensi bencana maupun kondisi darurat.
“Kesadaran bencana adalah kesadaran individu. Artinya, setiap warga harus tahu persis apa yang harus dilakukan ketika peristiwa bencana terjadi,” ujarnya, Rabu (11/12).
Ia menjelaskan, contoh sederhana mitigasi dapat dilihat saat terjadi hujan deras atau angin kencang. Warga yang sadar risiko tidak akan berteduh di bawah pohon atau papan reklame, melainkan mencari bangunan permanen yang aman atau menunda aktivitas di luar ruangan. “Ini tindakan mitigasi paling konkret yang ingin kami tanamkan,” imbuhnya.
Tiga Potensi Bencana yang Diwaspadai
Berdasarkan pemetaan BPBD Surabaya, potensi bencana yang menjadi perhatian utama meliputi:
- Gempa bumi
- Cuaca ekstrem
- Kebakaran
Selain itu, bencana yang sering terjadi seperti angin kencang hingga pohon tumbang juga terus diantisipasi melalui pemantauan rutin dan edukasi publik.
Edukasi Kebencanaan Ditingkatkan dari PAUD hingga SMP
Upaya membangun kesadaran mitigasi dilakukan melalui kolaborasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD). BPBD Surabaya menjalankan program Satuan Pendidikan Siaga Bencana yang diberikan secara rutin kepada peserta didik dari jenjang PAUD hingga SMP, baik negeri maupun swasta.
Program edukasi ini juga melibatkan beberapa OPD, seperti:
- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk edukasi pengelolaan sampah
- Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) terkait pemeliharaan saluran air
- Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP)
- Satpol PP
Menurut Irvan, kolaborasi tersebut terinspirasi dari semangat gotong royong Kampung Pancasila, di mana kesadaran menjaga lingkungan menjadi bagian penting dari mitigasi bencana.
Selain sekolah, edukasi mitigasi kini merambah ke pondok pesantren di Surabaya. DLH memberikan edukasi pengelolaan sampah, DSDABM memeriksa saluran air, dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Serta Pertanahan (Disperkim) meninjau konstruksi bangunan untuk memastikan keamanan.
Perkuat Layanan Darurat dengan 10 Posko Terpadu
BPBD Surabaya tidak hanya fokus pada pencegahan, tetapi juga peningkatan layanan kedaruratan. Layanan call center 112 menjadi pusat respons utama. Kini, warga dapat melaporkan kejadian darurat melalui WhatsApp di nomor 0811-3111-2112.
Untuk mempercepat penanganan, Pemkot Surabaya menambah 10 Posko Terpadu yang beroperasi 24 jam di beberapa titik strategis:
- Surabaya Timur – Jl. Arif Rahman Hakim (Park & Ride)
- Surabaya Utara – Jl. Kasuari 1 (Terminal Kasuari)
- Surabaya Pusat – Jl. Simpang Dukuh – Jl. Genteng Besar
- Wiyung – Jl. Raya Wiyung (PMK Wiyung)
- Mastrip – Jl. Bogangin I, Kedurus
- Kedung Cowek – Jl. Kedung Cowek No. 348
- Jemursari – Jl. Jemursari Timur II No. 2 (Kantor BPBD)
- Dukuh Pakis – Jl. Mayjend Sungkono No. 122 (Park & Ride)
- Surabaya Selatan – Jl. Dukuh Menanggal No. 1 (Kantor Dishub)
- Surabaya Barat – Jl. Raya Balongsari No. 1 (Kantor Kecamatan Tandes)
“Posko terpadu sangat strategis, terutama untuk wilayah selatan yang sering mengalami kondisi darurat,” jelas Irvan.
Gotong Royong Warga Jadi Kunci Mitigasi Efektif
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya, Linda Novanti, menekankan bahwa kesadaran warga dan gotong royong merupakan elemen paling penting dalam mitigasi bencana.
Ia mencontohkan, ketika menghadapi potensi genangan air, warga perlu menyiapkan dokumen penting, memastikan saluran air bersih, hingga tidak membuang sampah sembarangan.
“Gotong royong warga sangat efektif dalam mitigasi. Dampak langsung bencana itu dirasakan oleh warga sendiri, sehingga partisipasi aktif sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Linda juga mengingatkan pentingnya disiplin berlalu lintas sebagai bagian dari mitigasi darurat. Banyak insiden kecelakaan, menurutnya, terjadi akibat pelanggaran aturan lalu lintas.
“Kesadaran di jalan raya juga bagian dari kesiapsiagaan bencana,” pungkasnya. (tas)

