Surabaya (prapanca.id) – Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) berhasil menyelenggarakan Konferensi Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam (KONMASPI). Acara bertempat di Amphitheater lantai 9, Kampus UINSA Gunung Anyar, dan dihadiri oleh 114 presenter, 28 panitia, serta dua narasumber dan satu moderator panel.
Dalam sambutannya, Dr. Nyong menyampaikan bahwa para peserta konferensi merupakan calon navigator sejarah masa depan bangsa. Ia berharap KONMASPI 2025 dapat menjadi langkah awal untuk memulai masa depan yang lebih membanggakan, sebagaimana filosofi perjalanan ribuan mil yang dimulai dari satu langkah kecil.
Wakil Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM), Dr. Muhammad Khodafi, S.Sos., menegaskan bahwa acara ini merupakan ajang bagi para akademisi dan sejarawan muda untuk berkontribusi. Ia menyampaikan harapan agar konferensi ini tidak hanya berkembang di tingkat nasional, tetapi juga merambah level internasional pada tahun berikutnya, mengingat jaringan yang sudah terbangun dengan beberapa universitas di ASEAN.
Rangkaian acara pembukaan ditutup dengan pembacaan doa sebelum memasuki sesi inti konferensi dan diskusi. Kegiatan ini mengusung tema “Sejarah dari Bawah: Metodologi, Subalternitas, dan Perspektif Baru dalam Studi Sejarah Peradaban Islam.” Dua narasumber yang dihadirkan adalah Dr. Rochimah, M.Fil.I. dan Ki Masyhudi.
Dr. Rochimah memaparkan materi berjudul “Gender dalam Perspektif Islam” yang mengkaji sejarah perempuan dalam Islam. Ia menyoroti bagaimana Islam membawa reformasi budaya dengan menegaskan kesetaraan laki-laki dan perempuan, sebagaimana tercantum dalam QS Al-Hujurat ayat 13. Islam disebutkan memberikan penghargaan terhadap perempuan dengan membatasi poligami, melarang pembunuhan anak perempuan, serta memberikan berbagai hak kemanusiaan dan ekonomi.
Sementara itu, Ki Masyhudi menyampaikan materi “Paradigma Subaltern dalam Program Studi Sejarah Peradaban Islam.” Ia menjelaskan perbedaan antara kebudayaan sebagai pengetahuan pedoman hidup yang otomatis dan peradaban sebagai kebudayaan yang statis dan dinamis dengan melibatkan renungan dan pemikiran. Ki Masyhudi juga membagi bidang kajian peradaban Islam ke dalam lima aspek utama, meliputi seni, etika dan moral, ilmu dan teknologi, serta agama.
Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, penyerahan sertifikat kepada narasumber, dan dokumentasi foto bersama. Para peserta kemudian melakukan istirahat untuk shalat, makan, dan beribadah sebelum melanjutkan ke sesi paralel yang dimulai pukul 12.30 WIB.
Sesi paralel konferensi berlangsung di lantai 3 dan 4 dengan melibatkan seluruh 114 presenter. Diskusi terbagi dalam 11 ruangan yang masing-masing dipandu oleh seorang moderator dan seorang pembahas. Sesi berjalan lancar dan intens, dimana setiap presenter memaparkan salindia mereka dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh pembahas dan moderator di setiap ruang. (agu)

