Surabaya (prapanca.id) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memaparkan sejumlah strategi utama dalam memperkuat daya saing ekonomi daerah di tengah dinamika global saat menjadi keynote speaker dalam forum Jatim Talk yang digelar oleh Bank Indonesia Jawa Timur bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur.
Forum yang mengusung tema penguatan daya saing melalui hilirisasi komoditas unggulan dan iklim investasi berkelanjutan ini juga menjadi bagian dari diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Jawa Timur serta rangkaian menuju East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026.
Dalam paparannya, Khofifah menekankan bahwa kondisi geopolitik global yang dinamis, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah, menuntut pemerintah daerah untuk bersikap adaptif sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, sinergi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan.
Kinerja ekonomi Jawa Timur pada tahun 2025 yang tumbuh sebesar 5,33 persen disebut menjadi fondasi kuat dalam menghadapi tantangan ke depan. Capaian tersebut dinilai mencerminkan ketahanan ekonomi daerah yang tetap solid di tengah tekanan global.
Lebih lanjut, Khofifah menegaskan peran strategis Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara yang harus dioptimalkan melalui penguatan kerja sama perdagangan antar daerah, peningkatan investasi, serta percepatan hilirisasi komoditas strategis. Upaya ini diyakini mampu mendorong nilai tambah ekonomi sekaligus memperluas peluang pasar.
Di sektor pangan, Jawa Timur disebut memiliki posisi penting sebagai salah satu lumbung nasional. Penguatan ketahanan pangan menjadi prioritas utama, terutama melalui pengelolaan lahan yang optimal, peningkatan distribusi, serta pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Menurut Khofifah, sektor pangan tidak hanya berfungsi sebagai penopang kebutuhan domestik, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendukung ekspor. Oleh karena itu, penguatan sektor ini menjadi salah satu kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya menciptakan iklim investasi yang kondusif guna menarik minat investor sekaligus mendorong pertumbuhan sektor industri. Di tengah tekanan global, peluang ekonomi tetap terbuka melalui pengembangan sumber pertumbuhan baru, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta kebijakan strategis yang terarah.
Forum Jatim Talk ini diharapkan menjadi ruang kolaboratif bagi para pemangku kepentingan untuk menyelaraskan langkah dalam merespons tantangan ekonomi global. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.
Dalam kesempatan tersebut, Bank Indonesia Jawa Timur juga menyerahkan buku Laporan Perekonomian Provinsi kepada Gubernur Khofifah. Dokumen ini memuat berbagai rekomendasi kebijakan berbasis riset, mulai dari penguatan distribusi barang, percepatan investasi hilirisasi, pengembangan agribisnis, hingga optimalisasi digitalisasi fiskal dan sistem pembayaran.
Rekomendasi tersebut menjadi landasan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional. (tas)

