Surabaya (prapanca.id) — Upaya memperkuat posisi Jawa Timur dalam peta ekonomi regional kembali ditegaskan melalui pertemuan antara Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Raden Dato’ Muhammad Iman Hascarya Kusumo. Pertemuan tersebut berlangsung di sela agenda Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Malaysia di Kuala Lumpur, Rabu (29/4/2026).
Dialog bilateral ini menyoroti penguatan kerja sama lintas sektor, terutama perdagangan dan pendidikan, sebagai dua pilar utama dalam memperluas pengaruh ekonomi Jawa Timur di kawasan Asia Tenggara. Dalam pertemuan itu, Khofifah menekankan bahwa Jawa Timur memiliki fondasi kuat untuk berperan sebagai pusat perdagangan nasional yang kompetitif di tingkat global.
Selama beberapa tahun terakhir, strategi penguatan ekonomi Jawa Timur dilakukan melalui pendekatan ekspansi pasar, baik antar daerah di dalam negeri maupun ke pasar internasional. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga memperluas jejaring bisnis melalui forum business matching yang mempertemukan pelaku usaha lintas negara.
Hubungan dagang antara Jawa Timur dan Malaysia menunjukkan tren positif. Data perdagangan tahun 2025 mencatat nilai ekspor Jawa Timur ke Malaysia mencapai lebih dari USD 1,5 miliar, sementara impor berada di kisaran USD 572 juta. Surplus yang cukup signifikan tersebut mencerminkan daya saing produk Jawa Timur di pasar regional.
Komoditas unggulan seperti tembaga, produk kimia, kakao, serta hasil olahan kayu menjadi kontributor utama ekspor nonmigas. Sementara itu, impor dari Malaysia didominasi oleh bahan baku industri seperti plastik, mesin, dan produk kimia organik. Pola ini menunjukkan adanya hubungan saling melengkapi dalam rantai pasok industri kedua wilayah.
Selain memperkuat perdagangan, pertemuan tersebut juga membahas pengembangan sektor pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Kolaborasi antar perguruan tinggi, pertukaran pelajar, serta penguatan riset dinilai menjadi kunci dalam menciptakan sumber daya manusia yang adaptif terhadap tantangan global.
Khofifah juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan dalam menciptakan inovasi berbasis riset. Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus memperluas penetrasi pasar internasional.
Di sisi lain, isu ketenagakerjaan turut menjadi perhatian dalam diskusi tersebut. Penguatan koordinasi terkait regulasi dan perlindungan pekerja migran Indonesia di Malaysia dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan hubungan bilateral yang sehat dan saling menguntungkan.
Duta Besar RI untuk Malaysia, Raden Dato’ Muhammad Iman Hascarya Kusumo, melihat Jawa Timur sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional dengan potensi besar di sektor industri dan perdagangan. Ia menilai peluang kolaborasi antara pelaku usaha kedua negara masih terbuka luas, terutama dalam pengembangan produk bernilai tambah dan ekspansi ke pasar global.
Pertemuan ini juga menegaskan arah kebijakan Jawa Timur yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pembangunan berkelanjutan. Penguatan sektor pangan, industri, serta inovasi teknologi menjadi bagian dari strategi besar dalam menghadapi dinamika ekonomi global.
Dengan dukungan konektivitas, kapasitas produksi, serta basis pasar yang besar, Jawa Timur dinilai memiliki posisi strategis sebagai gerbang perdagangan Indonesia bagian timur. Ke depan, kolaborasi dengan Malaysia diharapkan tidak hanya meningkatkan volume transaksi, tetapi juga memperkuat integrasi ekonomi kawasan.
Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan melalui kemitraan internasional yang produktif. (tas)

