Surabaya (prapanca.id) – Gelaran Airlangga Education Expo (AEE) 2026 hari kedua menjadi momentum refleksi diri bagi para pelajar yang tengah mempersiapkan masa depan akademik dan karier. Salah satu sesi yang menyedot perhatian peserta adalah bincang interaktif bertajuk MBTI: Mapping Your Best Talent and Interest, Sabtu (24/1).
Dalam sesi tersebut, Rudi Cahyono, M.Psi., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), menegaskan bahwa pemetaan minat dan bakat merupakan fondasi penting untuk meraih kesuksesan jangka panjang.
“Keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh aspek yang bisa dirangking seperti IQ. Ada banyak faktor lain yang sama pentingnya,” ujar Rudi di hadapan peserta AEE.
Menurutnya, minat adalah ketertarikan individu terhadap aktivitas atau bidang tertentu, sementara bakat merupakan potensi bawaan yang bersifat laten dan membutuhkan pengembangan. Tanpa kesadaran dan dukungan lingkungan, bakat tidak akan tumbuh optimal.
“Bakat itu seperti emas. Jika tidak diolah, ia hanya akan tersimpan dan tidak memberi nilai tambah,” jelasnya.
Rudi menekankan pentingnya keselarasan antara minat dan bakat dalam memilih program studi. Ketidaksesuaian keduanya berpotensi menimbulkan hambatan selama perkuliahan hingga berdampak pada arah karier di masa depan.
“Ketika seseorang tidak memahami jati dirinya, ia akan kesulitan menentukan nilai apa yang bisa ditawarkan ke dunia kerja,” tambahnya.
Lebih lanjut, Rudi memaparkan Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) sebagai salah satu instrumen psikologi untuk mengenali preferensi kepribadian. MBTI mencakup empat dimensi utama, yakni sumber energi, cara memproses informasi, pengambilan keputusan, serta gaya hidup.
Ia menyebut, pemahaman terhadap tipe MBTI dapat membantu individu mengenali kecocokan profesi tertentu. Meski demikian, ia menegaskan bahwa MBTI bukanlah alat pembatas, melainkan panduan untuk mengenali potensi diri secara lebih akurat. (tas)

