Surabaya (prapanca.id) – Peringatan Hari Kartini 2026 menjadi momentum reflektif bagi perempuan Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, menekankan bahwa perjuangan perempuan saat ini telah bergeser dari isu akses menuju kemampuan menjaga keseimbangan peran di tengah derasnya arus digital.
Menurut Rini Indriyani, perempuan modern hidup dalam ruang yang penuh peluang. Akses pendidikan yang luas, kemudahan teknologi, serta terbukanya ruang berkarya menjadi indikator kemajuan yang tidak dialami generasi sebelumnya. Namun di sisi lain, kondisi tersebut justru melahirkan tantangan baru yang tidak kalah kompleks.
Ia menjelaskan bahwa perempuan masa kini tidak hanya dituntut berkembang secara personal, tetapi juga tetap menjadi pilar utama dalam keluarga. Keseimbangan antara peran publik dan domestik menjadi kunci agar perempuan tetap mampu berkontribusi tanpa kehilangan esensi perannya.
Dalam konteks tersebut, Rini Indriyani menyoroti pentingnya peran ibu dalam menghadapi dinamika era digital, khususnya dalam pola pengasuhan anak. Ia menilai, ruang tumbuh anak saat ini tidak lagi terbatas pada lingkungan fisik, melainkan meluas hingga dunia digital yang sulit dikontrol sepenuhnya.
Karena itu, ia menekankan bahwa orang tua, khususnya ibu, harus bertransformasi dari sekadar pengawas menjadi pendamping aktif. Pemahaman terhadap dunia digital anak menjadi hal yang krusial agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa menimbulkan risiko.
Selain itu, fenomena FOMO atau fear of missing out juga menjadi perhatian serius. Rini Indriyani melihat tekanan sosial akibat tren digital berpotensi memengaruhi psikologis anak dan remaja. Kondisi ini dapat membuat generasi muda kehilangan arah jika tidak diimbangi dengan penguatan karakter.
Ia menilai bahwa setiap individu memiliki potensi unik yang tidak perlu dibandingkan dengan orang lain. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk membantu anak mengenali jati dirinya agar tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial di dunia maya.
Di sisi lain, perubahan karakter generasi yang lebih terbuka dan ekspresif menuntut pendekatan komunikasi yang berbeda. Pola komunikasi satu arah dinilai sudah tidak relevan, sehingga orang tua perlu membangun hubungan yang lebih dialogis dengan anak.
Meski demikian, kebebasan tetap harus disertai batasan yang jelas. Rini Indriyani menekankan pentingnya keseimbangan antara memberikan ruang berekspresi dan menjaga arah perkembangan anak agar tetap positif.
Tak hanya itu, isu kesehatan perempuan juga menjadi perhatian dalam peringatan Hari Kartini kali ini. Ia menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tekanan kehidupan modern. Menurutnya, kondisi emosional ibu memiliki pengaruh besar terhadap keharmonisan keluarga.
Rini Indriyani menegaskan bahwa ibu merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter anak. Stabilitas emosi dan kebahagiaan seorang ibu akan berdampak langsung pada kualitas pola asuh yang diterapkan di dalam keluarga.
Sebagai upaya konkret, Pemkot Surabaya bersama TP PKK terus menguatkan berbagai program pemberdayaan keluarga. Program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) difokuskan pada pengasuhan anak usia dini, sementara program Kemangi hadir untuk mendampingi orang tua dalam menghadapi tantangan remaja.
Melalui sinergi tersebut, diharapkan perempuan dapat semakin adaptif dalam menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasar dalam keluarga.
Menutup pernyataannya, Rini Indriyani menekankan bahwa Kartini masa kini adalah perempuan yang mampu beradaptasi dengan teknologi, memiliki ketahanan mental, serta tetap menjaga empati sosial. Ketiga aspek tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadapi masa depan yang terus berubah. (tas)

