Surabaya (prapanca.id) – Upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan terus diperkuat melalui pendekatan inovatif. Dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026, Pemerintah Kota Surabaya bersama Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Surabaya menggelar pelatihan bela diri bertajuk Women Fight Back di Gelora Pancasila, Selasa (21/4/2026).
Program ini diikuti ratusan peserta dari 31 kecamatan di Surabaya. Para peserta mendapatkan pelatihan dasar bela diri, termasuk teknik Krav Maga yang dikenal efektif untuk situasi darurat. Materi yang diberikan tidak hanya berfokus pada teknik fisik, tetapi juga membangun kesiapsiagaan mental dan refleks dalam menghadapi potensi ancaman.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menilai kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan kapasitas perempuan di tengah meningkatnya risiko kekerasan di ruang publik maupun domestik. Menurutnya, perempuan perlu memiliki kemampuan dasar untuk melindungi diri tanpa harus kehilangan peran sosialnya di masyarakat.
Eri menegaskan bahwa pelatihan ini tidak bertujuan menjadikan perempuan bersikap agresif, melainkan membekali mereka dengan keterampilan dasar agar tetap tenang dan mampu mengambil keputusan tepat dalam kondisi darurat. Ia juga menyoroti bahwa olahraga bela diri memiliki manfaat lebih luas, mulai dari menjaga kebugaran hingga memperkuat mental dan rasa percaya diri.
Ke depan, program pelatihan ini direncanakan akan diperluas hingga menjangkau lingkungan sekolah dan masyarakat tingkat bawah melalui Kampung Pancasila. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan akses pelatihan bagi perempuan lintas usia, sehingga kesadaran akan pentingnya perlindungan diri dapat tumbuh secara merata.
Ketua Perwosi Surabaya, Rini Indriyani, menilai pelatihan ini relevan dengan kondisi sosial saat ini. Ia menyebut perempuan masih menjadi kelompok rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, sehingga keterampilan dasar untuk mempertahankan diri menjadi kebutuhan penting.
Rini Indriyani juga menekankan bahwa kekuatan perempuan tidak hanya terletak pada aspek fisik, tetapi juga pada mental dan keberanian. Menurutnya, kemampuan untuk melawan dalam situasi tertentu dapat menjadi langkah awal untuk melindungi diri sendiri maupun keluarga.
Selain itu, ia berharap peserta dapat menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada lingkungan terdekat, termasuk anak-anak di rumah. Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya perlindungan diri dapat dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat.
Dari sisi teknis, pelatihan ini melibatkan pelatih profesional dari cabang olahraga bela diri, termasuk kickboxing. Peserta dilatih dalam kelompok kecil agar materi dapat dipahami secara optimal. Selain teknik dasar, peserta juga dikenalkan pada strategi bertahan, menghindar, hingga memanfaatkan benda di sekitar sebagai alat perlindungan dalam kondisi darurat.
Ketua Umum KONI Surabaya, Arderio Hukom, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan. Ia menilai pendekatan pelatihan langsung dengan pendampingan atlet mampu memberikan pemahaman yang lebih efektif kepada peserta.
Arderio juga menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar peserta tidak bertindak sembarangan dalam situasi berbahaya. Oleh karena itu, teknik yang diajarkan difokuskan pada dasar-dasar yang aman dan terarah, sehingga dapat diterapkan secara tepat tanpa menimbulkan risiko tambahan.
Melihat tingginya antusiasme peserta, program Women Fight Back berpotensi menjadi agenda berkelanjutan yang tidak hanya memperkuat perlindungan perempuan, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan pemberdayaan yang lebih luas di Kota Surabaya. (tas)

