Surabaya (prapanca.id) – Peringatan Hari Kartini 2026 dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memperkuat komitmen peningkatan kualitas kesehatan perempuan, khususnya dalam menekan angka kematian ibu (AKI). Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergerak bersama melalui kolaborasi lintas sektor.
Dalam peringatan yang mengusung tema “Bergerak Bersama Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI)”, Khofifah menegaskan bahwa isu kesehatan ibu tidak bisa diselesaikan secara parsial. Menurutnya, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, hingga keluarga untuk menciptakan sistem perlindungan yang komprehensif.
Ia menilai bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan, tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai aktor utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, upaya peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak menjadi prioritas penting dalam pembangunan daerah.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjut Khofifah, telah menjalankan berbagai program untuk memperkuat layanan kesehatan. Di antaranya pengembangan fasilitas layanan spesialis seperti stroke center, jantung center, dan onkologi center, serta layanan kesehatan bergerak untuk menjangkau wilayah terpencil dan kepulauan.
Selain itu, pemanfaatan teknologi juga terus didorong, salah satunya melalui aplikasi e-Desi yang digunakan untuk deteksi dini risiko hipertensi. Inovasi ini dinilai penting dalam mencegah komplikasi pada kehamilan yang berpotensi meningkatkan risiko kematian ibu.
Sejumlah capaian positif juga tercatat dalam sektor kesehatan Jawa Timur. Prevalensi stunting berhasil ditekan hingga 14,7 persen pada 2025. Di sisi lain, indikator pembangunan gender menunjukkan tren yang semakin membaik. Indeks Pembangunan Gender (IPG) Jawa Timur pada 2025 mencapai 93,29, meningkat dibanding tahun sebelumnya dan melampaui rata-rata nasional.

Perbaikan juga terlihat pada Indeks Ketimpangan Gender (IKG) yang berada di angka 0,347, lebih rendah dari rata-rata nasional. Sementara itu, partisipasi perempuan di sektor publik terus meningkat, termasuk keterwakilan di legislatif yang mendekati 20 persen serta tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan yang mencapai lebih dari 60 persen.
Meski demikian, Khofifah mengingatkan bahwa berbagai tantangan masih perlu dihadapi secara serius. Beberapa di antaranya adalah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, pernikahan usia dini, serta masalah gizi yang berkontribusi terhadap risiko kesehatan ibu.
Untuk itu, penguatan perlindungan perempuan terus dilakukan melalui optimalisasi peran Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) serta Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA). Kedua lembaga ini diharapkan mampu memberikan dukungan sosial dan edukasi bagi masyarakat dalam menjaga kualitas hidup perempuan.
Dalam konteks global, Khofifah juga menyoroti kontribusi perempuan Indonesia dalam mendorong perdamaian dunia. Salah satunya melalui inisiatif organisasi Muslimat NU yang menyampaikan seruan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait pentingnya penghentian konflik dan perlindungan warga sipil.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan Indonesia tidak hanya terbatas pada lingkup domestik dan nasional, tetapi juga memiliki pengaruh dalam isu global yang lebih luas.
Menutup pernyataannya, Khofifah mengajak seluruh perempuan untuk menjadikan semangat Hari Kartini sebagai energi kolektif dalam memperkuat kontribusi di berbagai bidang. Fokus utama tetap pada peningkatan kesehatan ibu sebagai fondasi dalam menciptakan generasi yang sehat, kuat, dan berdaya saing. (tas)

