Surabaya (prapanca.id) – Peringatan Hari Buku Sedunia 2026 dimanfaatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai momentum strategis untuk mendorong penguatan budaya literasi di tengah masyarakat. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa literasi menjadi kunci utama dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif di tingkat global.
Menurut Khofifah, buku bukan sekadar media bacaan, tetapi merupakan instrumen penting dalam memperluas wawasan dan membangun cara berpikir yang kritis. Ia menilai, kebiasaan membaca mampu membuka akses pengetahuan lintas budaya dan peradaban, sekaligus memperkaya perspektif individu tanpa batas geografis.
Momentum Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April, lanjutnya, memiliki nilai historis penting dalam dunia literasi global. Penetapan tanggal tersebut oleh UNESCO berkaitan dengan wafatnya sejumlah tokoh sastra dunia seperti William Shakespeare, Miguel de Cervantes, dan Inca Garcilaso de la Vega. Hal ini menjadi pengingat kuat akan peran buku dalam perkembangan peradaban manusia.
Dalam konteks pembangunan daerah, Khofifah menilai bahwa peningkatan literasi tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan sinergi antara keluarga, institusi pendidikan, pemerintah, serta komunitas untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak usia dini. Ia menekankan bahwa literasi bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menganalisis, serta menyaring informasi secara bijak.
Di tengah perkembangan teknologi, Khofifah juga menyoroti pentingnya adaptasi literasi ke dalam format digital. Pemanfaatan e-book, audiobook, hingga platform digital dinilai sebagai bagian dari transformasi literasi modern yang harus dioptimalkan, terutama untuk menjangkau generasi muda.
“Literasi saat ini tidak lagi terbatas pada buku cetak. Kemampuan memahami informasi digital dan membedakan fakta dari hoaks menjadi bagian penting dari literasi masa kini,” ungkap Khofifah dalam keterangannya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur sendiri terus mendorong peningkatan kualitas literasi masyarakat melalui berbagai program berkelanjutan. Berdasarkan data Perpustakaan Nasional, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Jawa Timur pada tahun 2025 mencapai angka 56,29. Capaian ini didukung oleh berbagai indikator seperti pemerataan akses perpustakaan, ketersediaan koleksi, serta partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan literasi.
Sejumlah inovasi juga telah dilakukan untuk mendekatkan budaya membaca kepada masyarakat. Program seperti mobil perpustakaan keliling, kegiatan dongeng interaktif, tur edukasi perpustakaan, hingga konten literasi berbasis digital menjadi strategi yang dijalankan untuk meningkatkan minat baca.
Selain itu, penguatan literasi juga dilakukan melalui kolaborasi dengan komunitas di tingkat desa dan kelurahan. Berbagai lomba, pelatihan, serta kegiatan kreatif berbasis literasi digelar untuk menciptakan ekosistem membaca yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Khofifah menilai, kebiasaan membaca harus menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Ia mendorong setiap individu untuk meluangkan waktu membaca secara rutin sebagai investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas diri.
Dalam jangka panjang, budaya literasi yang kuat diyakini mampu mendorong lahirnya masyarakat yang inovatif, produktif, dan adaptif terhadap perubahan global. Hal ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat daya saing bangsa di tengah dinamika dunia yang semakin kompleks.
Peringatan Hari Buku Sedunia 2026 pun menjadi refleksi bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas intelektual masyarakatnya. Dengan literasi yang kuat, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan global sekaligus menciptakan generasi yang berkarakter dan berdaya saing tinggi. (tas)

