Jakarta (prapanca.id) — Google masih mempertahankan posisinya sebagai mesin pencari paling dominan di dunia memasuki 2026. Dominasi tersebut tidak hanya datang dari pencarian konvensional, tetapi juga dari integrasi kecerdasan buatan Gemini ke dalam hasil pencarian melalui fitur AI Overviews dan AI Mode.
Dengan pendekatan ini, Google secara tidak langsung juga menjadi platform AI yang paling banyak digunakan secara global. Meski demikian, lanskap pencarian digital mulai menghadapi tantangan baru dari alternatif seperti ChatGPT, Perplexity, hingga Yahoo, yang kini kembali agresif dengan pendekatan berbasis AI.
Kekhawatiran pelaku media dan pemilik situs terhadap potensi penurunan trafik akibat jawaban instan dari AI masih menjadi perdebatan. Namun, riset terbaru dari Graphite dan Similarweb menunjukkan bahwa trafik organik dari mesin pencari hanya turun sekitar 2,5 persen sepanjang 2025. Google sendiri mengklaim bahwa trafik yang dihasilkan kini lebih berkualitas karena didorong oleh intent pengguna yang lebih matang.
Yahoo Scout Muncul sebagai Penantang Baru
Pada 27 Januari, Yahoo resmi meluncurkan mesin pencari berbasis AI bernama Yahoo Scout, yang saat ini masih dalam tahap beta untuk pengguna di Amerika Serikat. Yahoo Scout memanfaatkan model bahasa Claude dari Anthropic dan didukung teknologi pencarian web dari Microsoft Bing.
Langkah ini menandai upaya Yahoo untuk kembali relevan di dunia pencarian, setelah sebelumnya mengandalkan Bing sejak 2009. Dengan ekosistem yang mencakup Yahoo Search, Yahoo Mail, dan Yahoo News, Yahoo mengklaim memiliki sekitar 250 juta pengguna di Amerika Serikat, sebuah basis yang dinilai cukup kuat untuk menantang Google dan platform AI lainnya.
Volatilitas Peringkat Google Terus Terjadi
Perubahan algoritma Google juga menjadi sorotan pada Januari 2026. Sejumlah alat pemantau volatilitas pencarian mencatat fluktuasi signifikan peringkat situs, terutama pada dua periode utama: awal Januari dan pertengahan bulan.
Pengamat SEO Barry Schwartz menyebut perubahan tersebut sebagai pembaruan algoritma yang tidak diumumkan secara resmi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Google yang mengakui tidak semua pembaruan inti diumumkan ke publik.
Sejumlah pemilik situs melaporkan penurunan pendapatan iklan, yang diduga berkaitan dengan kebijakan kualitas halaman dan penggunaan iklan intrusif. Analisis sebelumnya dari Lily Ray menunjukkan bahwa situs e-commerce justru menjadi pemenang dalam pembaruan algoritma akhir 2025, sementara konten buatan pengguna dan situs sosial mengalami penurunan visibilitas.
Gemini 3 dan Perubahan Pola Klik Pengguna
Google juga mengumumkan bahwa Gemini 3 kini menjadi model default untuk AI Overviews dan AI Mode. Perubahan ini memperkuat peran AI dalam menjawab kueri pengguna secara langsung di halaman pencarian.
Fitur “Show more” pada AI Overviews kini langsung mengarahkan pengguna ke AI Mode, yang menampilkan jawaban lanjutan sekaligus menyembunyikan tautan pencarian tradisional. Pengamat menilai perubahan ini berpotensi mengurangi klik ke situs publisher, meski Google menegaskan bahwa tautan sumber tetap disertakan dalam hasil AI.
Agentic Commerce dan Masa Depan E-Commerce
Di sektor perdagangan digital, Google bersama sejumlah raksasa teknologi dan ritel memperkenalkan Universal Commerce Protocol (UCP) pada 11 Januari. Protokol ini dirancang untuk mendukung konsep agentic commerce, di mana AI bertindak sebagai agen yang mencari, memilih, hingga membeli produk atas nama pengguna.
UCP dikembangkan bersama platform besar seperti Shopify, Etsy, Wayfair, Target, dan Walmart. Google menargetkan agar situs e-commerce yang mendukung UCP dapat menampilkan tombol beli langsung di AI Mode, memungkinkan transaksi tanpa harus mengunjungi situs penjual.
Bagi pelaku e-commerce, terutama yang menggunakan WordPress dan WooCommerce, kesiapan data menjadi krusial. Informasi produk seperti SKU, GTIN, stok real-time, dan variasi produk perlu disajikan dalam format terstruktur agar mudah dibaca dan diproses oleh AI.
Tantangan Baru SEO dan Publisher
Perubahan cepat pada pencarian berbasis AI menuntut pemilik situs untuk beradaptasi. Fokus tidak lagi semata pada peringkat kata kunci, tetapi pada kualitas data, otoritas konten, serta kesiapan teknis menghadapi era AI-driven search dan commerce.
Meski tantangan semakin kompleks, para pengamat menilai peluang masih terbuka lebar bagi publisher dan pelaku digital yang mampu menyesuaikan strategi dengan arah baru ekosistem pencarian global. (agu)

