Surabaya (prapanca.id) — Tren gentle parenting semakin populer di kalangan orang tua muda, terutama generasi Z. Namun, pendekatan yang identik dengan kelembutan ini dinilai kerap disalahpahami sebagai pola asuh tanpa aturan. Pakar psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Nur Ainy Fardana, M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa gentle parenting justru menuntut keseimbangan antara empati dan ketegasan.
Menurut Dr. Nur, konsep gentle parenting bukan sekadar menghindari hukuman atau bersikap lunak terhadap anak. Pendekatan ini berakar pada pembentukan hubungan yang sehat antara orang tua dan anak, dengan tetap menghadirkan batasan yang jelas sebagai panduan perilaku.
“Banyak yang keliru menganggap pendekatan ini berarti membiarkan anak melakukan apa saja. Padahal, esensinya adalah membimbing anak memahami emosi sekaligus konsekuensi dari tindakannya,” jelasnya.
Empati Tanpa Batasan Berisiko Menjadi Permisif
Dalam praktiknya, Dr. Nur menilai bahwa empati memang menjadi fondasi utama dalam gentle parenting. Orang tua diajak memahami emosi anak sebelum memberikan respons. Namun, empati yang tidak diimbangi dengan batasan berpotensi mengarah pada pola asuh permisif.
Secara psikologis, anak yang tumbuh tanpa batasan cenderung mengalami kesulitan dalam mengontrol diri. Mereka juga berisiko tidak memahami norma sosial karena kurangnya struktur yang jelas dalam proses pengasuhan.
“Empati membantu orang tua membaca kebutuhan emosional anak. Tetapi tanpa aturan yang konsisten, anak tidak memiliki kerangka untuk belajar tanggung jawab,” terang Dr. Nur.
Ia menambahkan bahwa komunikasi yang efektif menjadi jembatan antara empati dan disiplin. Melalui komunikasi yang terbuka, anak dapat memahami alasan di balik aturan yang diterapkan, bukan sekadar mematuhinya.
Perbedaan dengan Pola Asuh Otoriter
Dr. Nur juga menyoroti perbedaan mendasar antara gentle parenting dan pola asuh otoriter yang masih banyak diterapkan. Dalam pola asuh otoriter, kepatuhan menjadi tujuan utama, sering kali dengan pendekatan hukuman atau tekanan.
Sebaliknya, gentle parenting menempatkan anak sebagai individu yang sedang berkembang. Perilaku anak tidak langsung dianggap sebagai bentuk pembangkangan, melainkan bagian dari proses belajar memahami emosi dan lingkungan.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam jangka panjang karena mendorong terbentuknya kesadaran internal, bukan sekadar kepatuhan eksternal.
Dampak Jangka Panjang bagi Perkembangan Anak
Secara teoritis, pendekatan yang menggabungkan empati dan batasan ini sejalan dengan pola asuh authoritative, yang dalam banyak penelitian psikologi dianggap paling optimal. Anak yang dibesarkan dengan pendekatan ini cenderung memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik, rasa percaya diri tinggi, serta keterampilan sosial yang lebih matang.
Namun demikian, penerapannya tidak sederhana. Dr. Nur menekankan bahwa gentle parenting membutuhkan konsistensi, kesabaran, serta kesiapan emosional orang tua.
“Orang tua harus mampu mengelola emosinya sendiri terlebih dahulu. Tanpa itu, sulit menerapkan pola asuh yang stabil dan konsisten,” ujarnya.
Tantangan di Era Parenting Modern
Di tengah arus informasi yang masif di media sosial, konsep gentle parenting sering disederhanakan menjadi sekadar “tidak memarahi anak”. Hal ini memicu praktik yang tidak utuh dan berpotensi kontraproduktif.
Selain itu, tekanan sosial terhadap orang tua—baik dari lingkungan maupun ekspektasi digital—juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak orang tua merasa harus selalu “sempurna” dalam menerapkan pola asuh modern.
Padahal, menurut Dr. Nur, kunci utama bukan pada kesempurnaan, melainkan konsistensi dalam membangun relasi yang sehat dengan anak.
Menemukan Keseimbangan dalam Pengasuhan
Pada akhirnya, gentle parenting bukanlah pendekatan yang meniadakan disiplin, melainkan mengubah cara disiplin itu diterapkan. Batasan tetap diperlukan, tetapi disampaikan dengan cara yang menghargai anak sebagai individu.
Dr. Nur menegaskan bahwa keberhasilan pola asuh ini terletak pada keseimbangan antara kasih sayang dan struktur. Tanpa salah satu dari keduanya, tujuan membentuk karakter anak yang mandiri dan bertanggung jawab sulit tercapai.
“Anak perlu merasa dicintai sekaligus diarahkan. Di situlah peran orang tua menjadi sangat penting,” pungkasnya. (tas)

